May 16, 2021
  • 1:05 am Megahnya Masjid Al Jabbar Bandung, Jadi Wisata Ngabuburit di Bulan Ramadhan !
  • 1:24 am 5 Hal Paling di Kangenin di Bulan Ramadhan, Masjid Jadi Tempat Nongkrong?
  • 1:41 am Masjid Agung Sheikh Zayed Dari Pangeran Arab Saudi untuk Jokowi Dibangun di Solo
  • 1:05 am Bangun Masjid Bergaya Tionghoa, Mantan Jawara Pasar Baru Tobat!
  • 1:05 am Masjid di Inggris Jadi Pusat Vaksinasi Covid-19
Masjid Al Ma'moer, harapan dan doa para pedagang batik Laweyan | merdeka.com
https://www.nias-bangkit.com/

Masjid Al-Makmur di Kampung Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah menjadi viral karena tidak pernah dipakai untuk sholat Jumat. Padahal masjid ini sudah berdiri sejak 1943 dan diresmikan pada 16 Agustus 1945.

Warga sekitar kebanyakan mengikuti sholat Jumat di Masjid Laweyan, masjid tertua di Solo yang berdiri sejak 1546.

Ternyata, ada alasan tertentu mengapa Masjid Al-Makmur tidak menggelar sholat Jumat. Bahkan sejak pertama didirikan tahun 1943, masjid memang tidak menggelar sholat Jumat.

“Dulu kan warganya masih sedikit. Jika masjid ini mengadakan Jumatan, maka jemaah di Masjid Laweyan berkurang. Berdasarkan petunjuk ulama, diminta tidak mengadakan sholat Jumat, untuk menghormati masjid yang lebih tua,” kata seorang pengurus, Muhammad Najib, saat dijumpai di Masjid Al-Makmur, Jumat (27/11/2020).

Najib menceritakan Masjid Al-Makmur dahulunya dibangun oleh kakeknya, Masruri bin Sulaiman, seorang saudagar batik di Kota Solo. Berdiri tahun 1943, masjid kemudian diresmikan pada 16 Agustus 1945.

Pada awalnya, selain digunakan untuk tempat ibadah, masjid di Jalan Sidoluhur ini juga digunakan sebagai tempat pergerakan melawan penjajah. Bahkan kegiatan tersebut berlanjut hingga era ayahnya.

“Tahun 1943 itu digunakan Hizbullah berkumpul untuk melawan penjajah. Masa ayah saya juga seperti itu, tahun 1965 itu juga sama,” ungkap dia.

Dalam perkembangannya, muncul masukan untuk mengadakan sholat Jumat. Namun setelah berkonsultasi dengan para kiai, takmir masih tidak diperbolehkan mengadakan sholat Jumat.

“Tahun 70-an ada yang usul agar diadakan Jumatan. Tapi setelah berkonsultasi dengan kiai, tetap tidak diperbolehkan. Sampai sekarang masih tidak mengadakan,” katanya.

Arsitektur Masjid Al Makmur laweyan

Dari segi arsitektur, kata Najib, kakeknya dulu meniru bangunan-bangunan masjid dari Arab Saudi. Dari beberapa contoh, kemudian dibangunlah masjid itu.

“Kakek saya kan bukan arsitek, beliau hanya meniru masjid-masjid di Arab sana. Sampai sekarang bentuknya tidak berubah, paling hanya ganti cat dan lantai bagian luar saja,” ujar Najib.

Meski meniru bangunan Arab, di tengah masjid terdapat empat saka atau tiang penyangga dari kayu khas bangunan Jawa. Saka tersebut berasal dari pohon cemara.

Di luar masjid terdapat bagian-bagian yang terlihat kuno. Salah satunya tempat wudu yang berupa bak besar. Disediakan beberapa gayung untuk mengambil air wudu.

Kemudian ada pula kamar kecil di bagian halaman masjid. Tampak tulisan ‘koelah’ dan ‘kakoes’. Sebagai penunjuk ruangan untuk jemaah perempuan ditulis ‘kepoetrian’. Nama masjid pun masih tertulis dengan ejaan lama ‘Al-Ma’moer’.

“Nama Al-Makmur sendiri dibuat dengan harapan agar masyarakat di sini makmur. Masyarakat di sini kan kebanyakan para pedagang batik,” tutupnya.

Masjid ini kental dengan nuansa warna hijau di bagian interior termasuk karpet masjidnya yang juga berwarna hijau.

penulis artikel

RELATED ARTICLES
LEAVE A COMMENT