BISHOP AMIN

Pdt. Sarofati Gea: Nias Butuh Sinergi Antargereja

Pdt. Sarofati Gea

NBC — Tumpang tindih berbagai bidang hidup jadi latar belakang lambannya perkembangan Nias. Sayang hubungan antargereja sulit, setiap gereja lebih memilih fokus internal. Untuk membangun Nias, dibutuhkan sinergi antargereja. Sayang hal itu tak mudah.

Menjadi Bishop Gereja Angowuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) untuk kedua kalinya membuat Pdt. Sarofati Gea tidak memiliki perasaan istimewa. Mengemban tugas selama satu periode telah cukup memberikan pengalaman baginya dalam memimpin gereja yang berdiri pada 12 Mei 1946 ini. Ini tak berarti tanggung jawabnya jadi lebih ringan. Justru dalam kepemimpinannya pada periode kedua ini (2012-2017), ia harus meningkatkan semua program pada periode sebelumnya.

“Hal ini sejalan dengan tema dan subtema pada pelaksanaan Sidang Sinode Am ke-9 awal Juli lalu yang dijadikan sebagai visi dan misi dalam menjalankan tugas pada periode ini,” ujar Sarofati Gea saat ditemui NBC, Rabu kemarin (1/8), di Kantor Sinode Gereja AMIN, Jl. Gereja AMIN Tetehösi Idanoi No. 14, Gunungsitoli Idanoi.

Adapun tema yang diusung ‘Tuhan itu baik kepada semua orang (Mazmur 145:9a) dan subtema ‘Kebaikan Tuhan memampukan kita meningkatkan kemandirian dan kepedulian untuk turut serta membangun masyarakat yang cerdas, berkeadaban, dan berkeadilan.’ Guna menyelaraskan tema dan subtema tersebut, dalam tugasnya seorang Bishop (Gembala) Gereja AMIN harus mampu menerapkan 7 nilai pelayanan yang telah ditetapkan. Salah satunya adalah hidup secara sinergis dalam satu rumah di bawah satu atap.

“Satu rumah di bawah satu atap adalah moto Gereja AMIN yang digambarkan dengan Rumah Adat Nias. Artinya meski terdiri dari beberapa jemaat namun Gereja AMIN itu cuma ada satu. Dengan kata lain, di mana pun kami berada, maka kami dapat bergabung di jemaat tersebut tanpa harus membuat surat pindah, hanya perlu melapor saja,” kata Sarofati Gea.

Dengan nilai-nilai tersebut, lanjut Pendeta Sarofati, Gereja AMIN diharapkan dapat menjadi ujung tombak untuk menghasilkan cara kerja yang baik. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap keutuhan dan kemajuan gereja dalam merespons rahmat yang diberikan Tuhan.

Ayat Surat Sidi

Tak satu pun dapat mengetahui rencana Tuhan dalam kehidupan setiap orang. Begitu pula dengan Pdt. Sarofati yang tidak pernah bercita-cita menjadi seorang hamba Tuhan. Keinginan untuk menjadi pendeta baru muncul saat ia disidikan tahun 1987. Kala itu, ia terkesan dengan ayat yang tertera dalam Surat Sidinya. Ayat yang dikutip dari Amsal 25:21 itu berbunyi ‘Jika seterumu lapar, berilah dia makan roti dan jika kalau ia dahaga, berilah dia minum air’ sangat menyentuh relung hatinya hingga ia bergumul untuk mencari tahu makna di balik ayat tersebut.

“Saya berpikir, bagaimana caranya saya bisa mewujudkan ayat itu, sementara untuk melakukan itu sangat sulit karena mengasihi seteru atau musuh itu bukan perkara yang mudah,” tutur anak sulung dari tujuh bersaudara ini.

Namun, pergumulan itu tak lantas membuat alumni SMA Negeri 1 Gunungsitoli ini memutuskan untuk masuk sekolah pendeta. Hatinya masih bercabang dengan keinginan lain, yakni menjadi dokter. Lantaran kuliah kedokteran memerlukan biaya yang besar, atas saran keluarga akhirnya Pendeta Sarofati Gea memutuskan untuk masuk Sekolah Tinggi Theologi (STT) Jakarta.

Pergumulan ayah tiga anak ini tentang ayat dalam Surat Sidinya akhirnya mulai terjawab. Pendeta yang ditahbiskan sebagai Pendeta Gereja AMIN di tahun 1994 ini mulai aktif dalam berbagai kegiatan. Diawali dengan keterlibatannya dalam Tim Kelompok Setia Kawan Sosial Senat Mahasiswa STT Jakarta sebagai Sekretaris. Kegiatan ini pula yang diakui sang pendeta sebagai cikal bakal pembentukan karakter pemimpin dalam dirinya. Dalam tim tersebut ia banyak belajar untuk berbagi dengan sesama.

“Selama berada dalam tim itu, saya bersama teman-teman melakukan berbagai kegiatan sosial seperti mengunjungi korban penyalahgunaan narkoba, Rumah Sakit Kusta, dan kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan,” ujar Pendeta yang juga aktif sebagai anggota paduan suara di kampusnya.

Seiring waktu, semakin banyak posisi yang dipercayakan kepadanya. Tidak hanya dalam pelayanan gereja, bahkan dalam kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Hingga di usianya yang ke-39, ia terpilih sebagai Bishop AMIN periode 2007-2012, dalam Sidang Sinode Am ke-8 yang berlangsung di Tetehösi, Gunungsitoli. Lagi-lagi di tahun ini ia kembali dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Bishop AMIN hingga 2017.

Permasalahan Nias Kompleks

Jabatan Bishop pertama memberikan bekal pengalaman bagi Pendeta Sarofati Gea yang berarti. Dia lebih menguasai masalah-masalah warga jemaatnya. Persoalan mereka adalah gambaran umum permasalahan yang dihadapi masyarakat Nias. Ia pun dengan jelas melihat adanya tumpang tindih bidang-bidang kehidupan di Nias. Lantas ia yakin kondisi itulah yang jadi latar belakang lambannya kemajuan Pulau Nias.

“Kita tahu bahwa Nias memiliki banyak potensi yang bisa diolah terutama dalam bidang pertanian dan kelautan, tetapi mengapa masih banyak masyarakat Nias yang miskin? Tentu ada faktor penyebab dibalik semua itu,” ungkap Pendeta Sarofati.

Jabatan itu pula yang mengharuskannya berkeliling menemui semua anggota jemaat AMIN yang tersebar di Nias, Tapanuli Tengah, Medan, Riau, dan Jakarta. Pada akhir perjalanan itu, ia menyimpulkan bahwa pendidikan adalah bidang yang harus menjadi perhatian utama selain taraf ekonomi dan kesehatan yang masih minim. Untuk itu, berbagai pelatihan dan pembinaan semakin digalakkan. Bahkan, sejak 2011, Gereja AMIN mulai merambah ke sektor pendidikan formal dengan mendirikan satu SMP dan satu SMK serta menjalin kerja sama dengan salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) di Bandung sebagai upaya peningkatan kualitas SDM masyarakat.

Begitu pula dalam sisi budaya yang tak dapat dimungkiri juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan masyarakat Nias. Pendeta Sarofati mencontohkan dalam budidaya ternak babi yang dulunya adalah budaya Fo’arögöli telah berubah menjadi budaya Foba’o.

Ia menuturkan, dalam budaya Fo’arögöli, budidaya ternak babi dilakukan pada sebidang tanah yang telah dipagari dan disekat. Pada setiap sekat secara berselang-seling ditanami daun ubi jalar (bulugowi) sebagai makanan utama ternak, sedangkan pada sekat yang kosong itulah ternak babi dikembangbiakkan. Dengan demikian, jumlah ternak yang dikembangbiakkan dengan metode tersebut bisa mencapai puluhan ekor sehingga pada masa itu berapa pun jumlah babi yang harus disediakan dalam suatu pesta tidak menjadi permasalahan.

Sementara dalam budaya Foba’o seperti pada masa sekarang, karena jumlah lahan yang tersedia tidak luas, jumlah ternak babi yang dibudidayakan juga sedikit. Oleh karena itu, seharusnya penetapan jujuran mengikuti perubahan dalam budaya pengembangbiakan ternak babi tersebut.

“Penetapan jumlah jujuran juga sebaiknya disesuaikan dengan perubahan itu sehingga tidak akan menyulitkan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dengan tokoh-tokoh Adat Nias untuk mencari solusi terhadap persoalan tersebut,” kata Pendeta yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPC PIKI Nias (Persekutuan Inteligensi Kristen Indonesia).

Butuh Komunikasi yang Baik

Tantangan lain bagi jabatan bishop, menurut Pendeta Sarofati, adalah penyamaan persepsi. Perbedaan pemahaman memang tak dapat dihindari, tetapi bisa diminimalisasi dengan cara membangun hubungan yang baik dengan semua elemen. Bila semua persepsi sama, akan menghasilkan pergerakan yang sama.

“Misalnya dalam meningkatkan taraf pendidikan, itu kan bukan cuma cita-cita saya melainkan cita-cita semua orang. Jadi bila kita memberikan pemahaman sehingga mereka mengerti bahwa apa yang dilakukan itu adalah positif untuk kemajuan bersama, maka ini dapat diperjuangkan bersama-sama,” kata Pendeta Sarofati.

Mantan Direktur Forum Peduli Tano Niha (FORNIHA) ini juga prihatin atas fakta bahwa membangun hubungan antargereja terbukti sulit. Dia merasa setiap gereja lebih fokus pada kegiatan internal ketimbang bersinergi dengan gereja lain. Akibatnya beberapa organisasi yang melibatkan semua denominasi gereja yang ada di Nias tidak dapat berkembang dengan baik. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap timbulnya konflik yang tentunya harus segera diatasi.

“Jadi seorang pemimpin harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan siapa pun sehingga tidak ada yang merasa diabaikan. Artinya jangan karena ia seorang pemimpin, ia mengekslusifkan diri,” ujar Pendeta Sarofati. Dalam hal ini, semua warga Gereja AMIN secara khusus diingatkan kembali terhadap ketujuh nilai dasar pelayanan yang telah ditetapkan.

Terlepas dari tantangan tersebut, Pendeta Sarofati menyampaikan harapan agar gereja dapat menjadi pemersatu semua daerah di Kepulauan Nias yang sudah terbagi dalam 5 kabupaten/kota. [ANOVERLIS HULU]

 Biodata Singkat

  •  Nama lengkap: Pendeta Sarofati Gea
  • Nama panggilan: Ama Julio Gea
  • Tempat/Tanggal Lahir: Fadoro, Nias, 24 Juni 1968
  • Alamat: Jl. Supomo Gg Damai No. 14, Mudik-Gunungsitoli
  • Jabatan: Bishop AMIN periode 2012-2017
  • Pendidikan terakhir: Sarjana Theologi STT Jakarta
  • Anak dari: Sökhi’atulö Gea/Ama Sarofati Gea (66) dan Asadira Gea/Ina Sarofati Gea (67)
  • Anak ke: 1 dari 7 bersaudara
  • Istri: Mindo Lamria Sihite, S. Pd/Ina Julio Gea (43)
  • Pekerjaan: Guru SMA Negeri 3 Gunungsitoli
  • Anak:
    1. Barnabas Barnabas Juliosando Gea/Julio (Siswa kelas III SMP N 1 Gunungsitoli)
    2. Priskila Febrinasari Gea/Pinky (Siswi kelas VI SD Tohia Gunungsitoli)
    3. Chrisa Debora Gea/Debi (Siswi kelas 1 SD Tohia Gunungsitoli)
  • Jabatan yang pernah dipegang:
    • Koordinator Kesenian Senat Mahasiswa STT Jakarta (1999-2000)
    • Ketua BPH Majelis Jemaat Helefanikha (1996-2001)
    • Sekretaris Tim Oikumene Penanggulangan Bencana Alam Nias, Agustus-Desember 2001
    • Manajer Program Ketahanan Pangan Kerjasama Dinas Pertanian (2001)
    • Ketua Bidang DEKOPIN Kabupaten Nias (1999-2002)
    • Ketua Badan Penanggulangan Bencana PGI Daerah Nias (BPB PGI Daerah Nias) (2004-2006)
    • Fasilitator LPKM Sumatera Utara (2006)
    • Ketua Tim Seleksi KPU Kota Gunungsitoli (2010-2015, Sept-Nop 2010)
    • Ketua Umum BPH Majelis Sinode Gereja AMIN (Bishop) (2007-2012)
    • Pj. Direktur Yayasan Holi’ana’a, (Sept 2011- Januari 2012)
    • Anggota Dewan Pendidikan Kota Gunungsitoli (2011-2016)
    • Ketua Umum Yayasan Datafahea PGI Daerah Nias (2006-sekarang)
    • Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Nias (Mei 2007-sekarang)
    • Sekretaris Badan Peduli Pembangunan Kepulauan Nias (BPPKN) (2007-sekarang). [ANO]

 

6 Comments

  1. Chen Hulu said:

    selamat buat Bp.Pdt. Sarofati Gea, S.Th atas sidang sinode… namun pesan kami, agar terus ditngkatkan pelayanan di seluruh pulau Nias krn semakin lama penduduk nias menjadi mayoritas bukan kristiani lg terlebih2 di pesisir pantai lahewa dan kota gunung sitoli, yang dulu mayoritas sekarang menjadi minoritas,,,,, kami berharap nias dipulihkan, tmkc Tuhan Yesus memberkati….

  2. Haeli Hia said:

    Kami mengucapan Selamat kepada Bp. Pdt. Sarofati Gea, S.Th., atas suksesnya sidang sinode AMIN dan kembali terpilih menjadi BISHOP. Tuhan Yesus memberkati!

  3. Haeli Hia said:

    Kami mengucapan Selamat kepada Bp. Pdt. Sarofati Gea, S.Th., atas suksesnya sidang sinode AMIN dan kembali terpilih menjadi BISHOP. Tuhan Yesus memberkati!

  4. Bolododo Halawa said:

    sHALOM lUAR biasa Pak Pendeta Gea, membaca artikel ini, saya merasa terharu dengan perkembangan yang sudah dipaparkan beliau dalam menunjang SDM jemaat. saya percaya Beliau lebih laur biasa lagi dipake Tuhan untuk bagi Nias. Memang Fakta saya pikir yang terjadi di Nias bahwa salah satu Sinode Nomor satu di Nias memang susah untuk diajak kerjasama dan biasa orangyg susah diajak kerjasama itu karena tidak mampu dalam ide dan juga intelek. shalom Pak

Top