Wisata Durian di Pulau Nias

 

Penjual durian di kawasan Lapangan Merdeka, Gunungsitoli | Foto: NBC/Fotarisman Zaluchu

NBC — Siapa tidak kenal durian dari Pulau Nias? Baunya yang khas dan rasanya yang sangat gurih tidak urung menyebabkan durian-durian ini dibawa ke Sibolga, kemudian dikirim ke beberapa wilayah di Pulau Sumatera. Bulan Juni, Juli, dan Agustus, umumnya dikenal sebagai musim durian ini bisa ditemukan dengan mudah di Nias.

Soal harga, sangat jauh murah dibandingkan dengan durian di kota-kota besar. Di Kota Medan, misalnya, kita baru dapat menikmati gurihnya durian dengan merogoh kocek Rp 25.000-Rp 50.000. Namun, di Pulau Nias, dengan harga yang sama kita bisa mendapat puluhan durian!

Durian Nias | Foto: NBC/Fotarisman Zaluchu

Tidak percaya? Berburu durianlah ke arah Nias Tengah. Mulai dari persimpangan Faekhu, terus ke arah Botombawö, terus ke arah Lalai sampai ke arah kawasan Dola di Kecamatan Hiliserangkai. Di sana dengan mudah kita menemukan durian yang gurih dan lezat dengan harga hanya Rp 1.000-1.500. Sangat murah! Di pinggiran jalan dan di depan rumah penduduk, durian amat menggoda pandangan mata.

Durian-durian tersebut umumnya banyak dibeli dalam jumlah besar oleh para pengusaha dodol durian dan atau mereka yang ingin membawanya ke luar Pulau Nias.  Jika durian telah diolah menjadi dodol durian, harganya menjadi Rp 50.000 per  kilogramnya. Dodol durian juga mudah ditemukan dalam musim durian seperti sekarang ini.

Bagi mereka yang tidak berkesempatan berburu durian langsung dari sumbernya, masih ada alternatif. Jika kita ingin menikmati durian di kawasan Lapangan Merdeka Gunungsitoli, harganya memang sedikit lebih mahal, tetapi masih sangat terjangkau, yaitu dalam kisaran Rp 2.500-Rp 3.000. Soal rasa? Seorang pembeli yang sedang memilih-milih durian di Lapangan Merdeka menyatakan bahwa durian Nias tiada bandingnya. Tidak takut jika kadar kolesterol dan asam lambung meningkat? “Demi gurihnya durian Nias, musim durian adalah saat untuk sejenak melupakan masalah kesehatan,” kata salah seorang pembeli.

Saat ini, Kota Gunungsitoli memang bagaikan lautan durian. Mau? Segeralah ke Pulau Nias.

Tidak Diperam

Durian yang dijual di depan rumah penduduk di kawasan Dola. Semua durian ini baru jatuh dari pohon pada malam hari. | Foto: NBC/Fotarisman Zaluchu

Salah satu kunci kelezatan durian Nias adalah tidak diperam atau dikarbit. Durian matang yang dipasarkan kepada konsumen merupakan buah yang jatuh dari pohon. Dengan demikian, kelezatannya asli alami.

Biasanya, pemilik pohon durian membuat saung di dekat pohon yang dipakai untuk menunggui durian (manaro durian) seharian. Dengan adanya saung itu, buah durian yang jatuh bisa langsung dikumpulkan.

Umumnya, pohon durian di Nias tinggi-tinggi dan besar-besar sehingga sangat kecil kemungkinan untuk dipetik saat masih mentah, kecuali ingin mengonsumsi durian yang mentah.

Selain itu, pohon durian yang besar-besar itu juga berpotensi menjadi “incaran” para pemilik gergaji mesin (chain saw) untuk ditebang dan dijadikan papan. Di beberapa kampung di Nias, misalnya di Kampung Hilimböwö Badalu, Desa Hiligara, Gunungsitoli Selatan, akibat keteledoran menebang pohon durian, pada masa musim durian seperti ini, warga kampung tersebut tidak bisa menikmati durian selain membeli. Meskipun ada, jumlahnya sangat sedikit sekali. [FOTARISMAN ZALUKHU/STL]

2 Comments

Top