PROFIL

T. Ony, Anak Nakal yang Kini Jadi Eporus BNKP

Pdt. Tuhoni Telaumbanua, PhD. | Foto: NBC/Dokumen Pribadi

NBC — Tanggal 7 Juli 2012 lalu menjadi hari yang sangat bersejarah bagi Pdt. Tuhoni Telaumbanua, PhD. Pendeta yang lebih dikenal dengan panggilan Pdt. T. Oni Telaumbanua ini akhirnya terpilih sebagai Eporus BNKP periode 2012-2017 menggantikan eporus sebelumnya, Pdt. Kalebi Hia.

Pendeta yang akan  merayakan ulang tahunnya yang ke-48 pada 21 Juli mendatang ini memang terbilang memiliki karier yang cukup cemerlang. Sejak ditahbiskan sebagai pendeta di BNKP tahun 1989, berbagai jabatan dan kegiatan pelayanan telah diembannya. Tak hanya di dalam negeri bahkan juga sampai keluar negeri.

“Kita tidak bisa menyebut itu sebagai karier, tetapi apa, ya, apa pun yang saya lakukan itu disebut sebagai pelayanan,” ujar Pdt. Tuhoni kepada NBC, saat ditemui beberapa hari setelah diteguhkan menjadi Eporus BNKP, di kampus STT Sundermann Gunungsitoli.

Ungkapan Pdt. Tuhoni tersebut menegaskan bahwa semua pekerjaan yang berkaitan dengan gereja adalah sebuah tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Karena itu pula, ia harus melaksanakan tugas tersebut sebaik-baiknya.

Sama halnya ketika akhirnya ia dipilih menjadi Eporus BNKP dalam Sidang Sinode BNKP yang berlangsung di Onolimbu, Kabupaten Nias Barat, 3-8 Juli 2012. Baginya, kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin BNKP—gereja arus utama pertama di Nias—lima tahun ke depan merupakan amanah yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

“Apalagi visi yang yang harus diwujudkan adalah ‘BNKP teguh dalam persekutuan dan menjadi berkat bagi dunia’ bagi saya adalah sebuah visi yang sangat berat karena sebagai pemimpin, saya harus mampu merangkul semua elemen yang ada untuk menjadikan BNKP sebagai berkat bagi semua,” kata pendeta yang meraih gelar doktor bidang Teologi-Misiologi di Utecht University, Belanda, pada 2007 ini.

Untuk diketahui, pada Sidang Sinode BNKP, Sabtu (7/7/2012) Pdt. Tuhoni Telaumbanua terpilih sebagai Eporus BNKP (2012-2017) dengan 109 suara dari jumlah pemilih 210 orang. Selama lima tahun ke depan, ia didampingi oleh Sekretaris Umum yang dipilih oleh 110 peserta, yaitu Pdt. Dorkas Orienti Daeli, M.Th. Adapun Bendahara Umum dijabat oleh Pdt. Helu’aro Zega dengan perolehan 83 suara. Ketiga hamba Tuhan ini siap membawa visi dan misi BNKP ke depan.

Mewujudkan visi tersebut tentu tidak segampang membalikkan telapak tangan. Karena itu, bagi Pendeta Tuhoni, dalam rangka mewujudkan visi itu, hal utama yang diperlukan adalah kerja sama. Untuk membangun kerja sama yang baik itu diperlukan hubungan yang positif, tetapi kritis dan kreatif di antara semua pihak.

Sejak Kecil Ingin Jadi Pendeta

Siapa sangka, Ony kecil yang dikenal sangat nakal kini menjadi orang nomor satu di BNKP. Tak hanya nakal, berbagai kisah lucu dan sedih turut mewarnai perjalanan hidup anak ketiga dari empat bersaudara ini. Salah satunya adalah kisah lucu yang menjadi titik awal ia memutuskan untuk menjadi pendeta.

Pdt. Tuhoni saat promosi, PhD di Utrecht, Belanda. | Foto: NBC/Dokumen Pribadi

Saat ia berusia sepuluh tahun, Ony kecil yang baru pertama kali melihat sosok seorang pendeta sangat terkesan dengan penampilan seorang pendeta yang, menurut dia, sangat berwibawa. Wajar saja karena pada masa itu di tempat tinggalnya, tepatnya di Desa Ononamölö I Botomuzöi Kabupaten Nias, pendeta sangat jarang ditemui.

“Saat itu ada gereja yang mau diresmikan, jadi saya ingin sekali melihat pendeta itu seperti apa. Saya sangat penasaran sehingga saat itu saya nekat meninggalkan tugas saya menjaga padi di sawah dari burung pipit,” kenangnya sambil tertawa lebar.

Kebetulan, lanjut Pendeta Tuhoni, di dinding gereja yang akan diresmikan tersebut terdapat sebuah lubang. Tanpa pikir panjang, melalui lubang itu ia pun mengintip ke dalam ruangan dan melihat seorang pendeta yang mengenakan jubah hitam. Melihat hal itu, perasaan kagum muncul. Belum lagi dengan gerak-gerik sang pendeta yang begitu berwibawa serta sambutan yang luar biasa dari masyarakat setempat membuat Ony kecil makin terkesan dengan pendeta. Perasaan itulah yang membuatnya mencetuskan keinginan untuk menjadi seorang pendeta.

Kisah unik lainnya seputar cita-citanya yang ingin menjadi Pendeta tidak berhenti di situ. Suatu ketika, seorang pendeta yang tengah kelaparan singgah di rumahnya. Tak ada lauk yang dapat disajikan, hanya sebutir telur. Ony kecil yang juga sedang kelaparan memaksa sang ibu agar memberikan sebutir telur itu untuk dirinya. Karena ia memaksa, sang ibu spontan berkata, “Ini untuk pendeta,”. Kalimat yang dilontarkan sang ibu ternyata terwujud pada sang anak, meski awalnya perkataan itu sesungguhnya ditujukan pada sang pendeta yang kelaparan.

Meskipun demikian, perjalanan Pendeta Tuhoni untuk mencapai cita-citanya itu tidaklah mulus. Setelah tamat dari SMA Negeri 1 Gunungsitoli, ia tidak bisa langsung masuk sekolah pendeta. Orangtua menganjurkannya untuk melanjut ke IKIP Gunungsitoli, tetapi tidak lulus ujian masuk. Selanjutnya, ia mencoba melamar pekerjaan ke sebuah koperasi, tetapi juga tidak diterima. Kemudian ia mencoba melamar menjadi guru, tetapi ditolak. Kegagalan yang ia alami sempat membuatnya putus asa.

“Saya percaya apa yang saya alami waktu itu ada hikmahnya. Mungkin memang sudah panggilan saya untuk menjadi pendeta karena sudah saya cita-citakan. Akhirnya, orangtua saya menanyakan apa yang saya inginkan, lalu saya katakana, saya ingin jadi pendeta. Dan, pada 1983 saya pun masuk di STT HKBP Pematang Siantar,” kata Pendeta Tuhoni mengenang.

Lagi-lagi tantangan mendera saat ia menempuh pendidikan. Ia sering diejek teman-teman sekampusnya karena dianggap bodoh dan kampungan. Karena ejekan tersebut, ia bertekad untuk membuktikan bahwa ia bisa. Hal itu dibuktikannya dengan menjadi mahasiswa terbaik, tidak hanya pada saat menempuh pendidikan sarjana, tetapi juga saat pascasarjana.

“Di satu sisi, tekanan yang saya hadapi menjadikan saya semangat untuk meraih yang terbaik, tetapi di satu sisi apa yang saya raih membuat saya sombong. Dari situ saya berpikir bahwa perjuangan yang terberat dalam hidup adalah melawan diri sendiri,” kata pendeta yang masih menjabat sebagai Ketua STT BNKP Sundermann, Gunungsitoli, ini.

Apa yang diperolehnya sekarang ternyata melebihi apa yang ia cita-citakan pada masa kecil. Tak hanya menjadi pendeta, ia pernah terjun ke dunia politik selama 6 tahun hingga menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nias periode 1999-2004. Begitu pula dengan berbagai jabatan yang pernah dipegangnya serta berbagai kegiatan pelayanan yang ia ikuti baik di dalam dan luar negeri.

Eporus Punya Tugas Berat

Terharu dan bersyukur. Itulah yang dirasakannya sesaat setelah dirinya ditetapkan sebagai eporus baru BNKP. Terharu dan bersyukur karena Pendeta Tuhoni tak pernah bercita-cita untuk menempati posisi tersebut. Selain itu, ia tahu betul betapa berat tugas seorang eporus.

“Tugas eporus itu sangat berat sekali. Bagaimana ia bisa mengayomi dan mempersatukan semua jemaat, apalagi pengalaman kekristenan di Nias diwarnai dengan konflik dan perpecahan. Jadi, eporus harus mampu merekatkan persekutuan itu,” ujar ayah satu anak ini.

Akan tetapi, kata Pendeta Tuhoni Telaumbanua, tugas seorang eporus tidak hanya sekadar itu. Tugas yang paling penting adalah bagaimana eporus dalam kepemimpinannya mampu membuat agama benar-benar memiliki fungsi dalam pembangunan manusia seutuhnya.

Ia memberikan contoh nyata tentang kekristenan di Nias yang sudah mencapai usia yang cukup tua, yakni 140 tahun. Namun, gereja kelihatannya tidak berfungsi apa-apa. Justru kemiskinan, korupsi, dan berbagai penyakit sosial justru semakin merajalela.

“Hal ini sudah saya sampaikan pada saat Sidang Sinode. Saya katakana, mengapa hal ini bisa terjadi? Itu artinya gereja belum mampu menunjukkan fungsinya. Karena itulah, bukan hal yang gampang menjadi eporus karena diharapkan dia yang menggerakkan semuanya,” ungkap Pendeta yang hobi membaca dan lari pagi ini.

Belum lagi dengan visi BNKP yang diemban 5 tahun ke depan menjadikan tugas seorang Ephorus BNKP itu tidak gampang. Sesuai dengan visi tersebut, secara internal, ia harus memimpin gereja BNKP agar tetap teguh dan secara eksternal harus mampu menjadi berkat dalam semua bidang.

Pada akhir wawancara, Pendeta Tuhoni Telaumbanua pun menyampaikan pesan kepada para pelayan di BNKP secara khusus dan gereja-gereja lainnya secara umum agar melakukan transformasi sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan cara bergandengan tangan dan terus membenahi diri untuk dapat melakukan yang terbaik dalam pelayanan.

Demikian pula kepada semua umat kristiani dan jemaat BNKP secara khusus, ia meminta agar mampu membarui pemahaman tentang iman yang sebenarnya bukan hanya sebatas pada ibadah semata melainkan bagaimana perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kepada pemerintah ia juga berpesan agar menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik pemerintah harus menyadari bahwa mereka adalah abdi Tuhan, tidak hanya sebagai abdi negara dan masyarakat. Selain itu, perlu dibangun kerja sama yang baik antara pemerintah dan gereja tanpa intervensi satu sama lain. [ANOVERLIS HULU]

Biodata Singkat

Pdt. Tuhoni Telaumbanua bersama keluarga tercinta, anak dan istri. | Foto: NBC/Dokumen Pribadi

  • Nama lengkap             : Tuhoni Telaumbanua
  • Nama panggilan          : T. Oni, Ony
  • Tempat/Tanggal Lahir : Gunungsitoli, 21 Juli 1964
  • Pendidikan terakhir     : Philosophy Doctoral bidang Teologi-Misiologi di Utecht University, Belanda
  • Anak dari                    : T. Telaumbanua (Ama Nuru Telaumbanua) dan S. Waruwu (Alm)
  • Anak ke                       : 3 dari 4 bersaudara (Nurmanis Telaumbanua – alm; Dr. Sadieli Telaumbanua, M.Pd – Kepala Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli dan adiknya Motani Telaumbanua, SH – Kabag Hukum di Kantor Walikota Gunungsitoli)
  • Istri                              : Pendeta Nurcahaya Gea, M.Th (Dosen STT BNKP Sundermann)
  • Anak                           : Chantika Della Kurnia Telaumbanua
  • Jabatan yang pernah dipegang :
  • Direktur Pelmas BNKP, 1989-1992 dan 1995-1996
    1. Sekretaris Yayasan Perguruan BNKP, 1995-1996
    2. Pendeta Jemaat BNKP Gunungsitoli, 1997-2001
    3. Ketua DPC Partai Demokrasi Kasih Bangsa Kabupaten Nias, 1998-2004
    4. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nias, 1999-2004
    5. Ketua STT BNKP Sundermann, 2001-2004 dan 2007-2012
    6. Direktur PLPI BNKP, 2001-2004 dan 2007-2012
    7. Vice Moderator of United Evangelical Mission (UEM), 2008-2012
    8. Menjadi delegasi dalam berbagai kegiatan Oikumene di dalam dan luar negeri.
  • Jabatan sekarang         : Eporus BNKP periode 2012-2017. [ANO]

18 Comments

  1. Apolonius Lase said:

    Selamat melayani Pak Ony… Semoga sukses dalam jabatan baru sebagai Eporus BNKP. Cc. Pdt Juliman Harefa.

  2. Nias Bangkit said:

    "Si Anak Nakal" itu kini menjadi Eporus BNKP. Baca selengkapnya artikel agar lebih dekat dengan pendeta yang satu ini. Jangan lewatkan ya.

Top