SIDANG SINODE KE-56 BNKP

Mencari Pemimpin Rumah Tuhan di Pulau Nias

Oleh Fotarisman Zaluchu

Fotarisman Zalukhu | Foto: Dok. Pribadi

Mulai tanggal 3 dan berakhir pada tanggal 8 Juli 2012, Sinode ke-56 Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) akan dilaksanakan di Kabupaten Nias Barat. Sinode kali ini akan bersifat strategis karena selain akan menentukan arah pelayanan ke depannya, Sinode ke-56 ini juga akan memilih Eporus sebagai pucuk pemimpin tertinggi di BNKP.

Pemilihan pemimpin memang selalu saja menarik, bahkan sering sekali mengalahkan esensi dari Sinode itu sendiri. Karena itu, tidak mengherankan jika Sinode BNKP juga menjadi perbincangan hangat di kalangan para pelayan dan masyarakat umum. Harus diakui bahwa siapa figur yang akan menduduki jabatan itu sering dikaitkan dengan masa depan gereja BNKP yang sekarang ini melayani 360.956 jiwa warga yang tersebar di seluruh Indonesia.

Apalagi, jika kita berbicara mengenai perkembangan terakhir di Pulau Nias yang saat ini sudah “terpecah” ke dalam 4 wilayah kabupaten dan 1 wilayah kota. Membagi urusan pelayanan ke wilayah-wilayah yang memiliki keunikan dan perbedaan dinamika pelayanan tersebut, juga membutuhkan sosok pemimpin yang mengerti konfigurasi sosio-psikologis masyarakat pasca pemekaran. Dinamika politik yang ada, tidak pelak lagi, turut memengaruhi pelayanan BNKP pada masa-masa mendatang.

Belum lagi kalau kita berbicara mengenai kondisi masyarakat di Pulau Nias sekarang ini khususnya. Tidak dapat dimungkiri, pascabencana gempa pada 28 Maret 2005, begitu banyak perubahan psikologis yang terjadi pada warga masyarakat, yang dampak-dampaknya juga harus turut diantisipasi dengan baik oleh gereja, termasuk BNKP.

Bahkan, kemudian jika keterbukaan Pulau Nias pada informasi dan berbagai kemajuan yang ada kemudian membawa konsekuensi, maka BNKP juga harus menangkap pesan-pesan tersebut sebagai sebuah amanah untuk memilih figur terbaiknya.

Akan tetapi, semuanya itu sebenarnya hanyalah pertimbangan manusia. Kita memang bisa menentukan jabatan Eporus di BNKP dengan mengalkulasi semua kemungkinan rasional berdasarkan pada hal-hal yang berbau politik-sosial-psikologis atau apa pun itu. Mudah bagi kita, misalnya meniru cara dunia menentukan pilihannya. Model uji kelayakan dan kepatutuan, model pencarian bakat kepemimpinan, model kepemimpinan berbasis IQ atau EQ.

Tanyakan Arahan Tuhan

Institusi BNKP tidak boleh terjebak pada hal-hal seperti itu sebagai pertimbangan utama. Di rumah Tuhan, termasuk BNKP, pemilihan pelayan tertinggi seharusnya bertanya kepada “arahan” Tuhan.

Teringat pada bagaimana cara Tuhan dulu memilih pelayannya, semua dengan cara pertimbangan yang terkadang tidak terjangkau rasional manusia. Sewaktu memilih Musa, Tuhan memilih orang yang tidak percaya diri dan penuh keraguan. Musa saat itu adalah orang yang berbicara pun enggan. Namun, Tuhan kemudian memercayakan kepadanya sebuah misi mustahil. Sosok Musa kemudian menerima kepercayaan pelayanan yang begitu luar biasa. Di balik terpilihanya Musa, sesungguhnya Tuhan-lah yang bekerja.

Demikian juga ketika Tuhan memilih Daud. Sosok Daud “hanyalah” seorang gembala domba. Ia, dilihat dari kacamata manusia, bukanlah sosok yang gagah, tetapi karena Daud sudah terbiasa bergaul dengan domba, Tuhan membutuhkan sosok yang mampu mengendalikan kawanan Israel. Tuhan memilih sosok yang seolah tidak gagah dan tidak berprofil prajurit untuk melayani-Nya.

Berdasarkan hal itu, pemilihan pelayan Tuhan seharusnya juga bertanya pada kehendak Tuhan. Bahkan, sosok pemimpin dari pelosok desa sekalipun, jika Tuhan menghendaki, adalah sosok terbaik, yang harus diterima dengan senang hati karena dikenakan anugerah untuk melayani-Nya. Itulah uniknya kita memandang pemilihan pelayan tertinggi di BNKP. Jika kita menggunakan cara-cara dunia, bukan saja kita sudah terdistorsi oleh dunia dengan segala kegagalannya, melainkan juga kita bisa tidak direstui oleh Tuhan yang sesungguhnya adalah yang Empunya pelayanan ini.

Para peserta sinode yang memilih pemimpin BNKP sebaiknya bertanya dengan serius kepada Tuhan. Karena itu, berdoa dengan sungguh-sungguh, jika perlu berpuasa, kemudian merenungkan panggilan Tuhan, termasuk meresapi makna pelayanan ini. Dengan begitu, pikiran akan terbuka pada kekuatan Roh Kudus yang akan menuntun. Tidak ada gunanya menyelesaikan agenda pemilihan dan seluruh rangkain acara Sinode ke-56 ini tetapi kemudian anugerah Tuhan tidak menyertai. Namun, alangkah sukacitanya jika pelayanan di BNKP adalah pelayanan yang didorong, ditopang, dikawal oleh Tuhan, yang memilih sendiri pelayan untuk rumah-Nya.

Pemilihan model Tuhan juga adalah pemilihan yang unik. Sewaktu Ia memilih murid-murid-Nya untuk kemudian diperintahkan-Nya membawa kabar keselamatan, Ia meminta mereka untuk membayar harga. Ia meminta supaya mereka setia, menyangkal diri, bahkan memikul salib.

Dunia mengenal pemimpin sebagai sosok yang wah, berdiri dalam kebesaran, dan otoritas yang kuat. Tetapi, sebaliknya, dalam Tuhan, pemimpin adalah pelayan yang merendahkan diri. Tuhan memberikan contoh dengan mencuci kaki murid-murid-Nya sendiri. Ia tidak menggunakan jubah kebesaran ke-Tuhan-Nya untuk kemudian berdiri memberikan perintah mengasihi. Ia sendiri memberikan contoh itu. Tanpa ragu, Tuhan membasuh kaki murid-murid-Nya.

Pelayan tertinggi di BNKP adalah sosok yang seharusnya rendah hati. Kita butuh sosok seperti ini karena sudah bosan dengan cara-cara dunia memilih pemimpinnya. Lihat saja di televisi bagaimana produk-produk pemimpin ala dunia. Ketika mereka belum terpilih, mereka begitu ramah dan dekat dengan masyarakat, tetapi sesudahnya jangan harap.

Pemimpin BNKP Harus Memiliki Kasih

Kita mengingatkan bahwa menjadi pemimpin di BNKP kelak tidak dengan tangan besi. Tuhan sudah memperingatkan bahwa modal utama menjadi pemimpin hanyalah dengan kasih. Bukan kasih pada diri sendiri, kelompok, marga atau lainnya. Kasih pada mereka yang dilayani adalah hal yang utama, yang pernah menggerakkan Tuhan yang agung itu untuk memberikan diri-Nya sendiri bagi manusia. Kasih seperti itulah yang harus dipraktikkan oleh mereka yang menyebut diri sebagai pelayan tertinggi di rumah Tuhan. Manakala kasih tidak ada, tanpa segan Tuhan akan merampas kehormatan pelayanan sehingga jabatan tak lagi berharga dan bernilai karena Tuhan sudah tidak lagi menyertai. Contoh mengenai pelayan yang ditinggalkan Tuhan adalah Saul. Ketika Saul lebih mencintai dirinya sendiri, Tuhan pun mencari sosok lain untuk menjadi pelayan-Nya.

Selain pelayan di rumah Tuhan, Sinode ini juga membicarakan mengenai arah pelayanan. Menentukan arah pelayanan di rumah Tuhan sebenarnya tidak boleh meleset dari amanat agung Tuhan. Pembinaan iman warga, pelayanan kasih kepada warga, plus penginjilan, adalah tiga kata kunci pelayanan mana pun, termasuk di BNKP.

Alangkah sangat ironisnya ketika di Pulau Nias, pembinaan iman warga yang selama ini dilaksanakan oleh gereja, kini harus berhadapan dengan sekularisme dan dehumanisasi dari dunia ini. Judi dan perbuatan amoral, justru dilakukan oleh mereka-mereka yang setiap hari minggu beribadah ke gereja. BNKP harus mengintensifkan pembinaan iman yang lebih mengubah hati manusia. Menghadapi begitu banyak perubahan dalam kehidupan warga, maka program BNKP sudah tidak zamannya lagi disusun seperti apa adanya. Diperlukan program yang kuat dan kokoh untuk menciptakan arah pelayanan yang menyentuh kebutuhan.

Ada kesan bahwa orientasi gereja sekarang ini, termasuk di BNKP, memberikan bobot besar pada pembinaan iman. Pelayanan kasih semakin langka, apalagi penginjilan. Bahkan, mungkin ada pelayan di BNKP yang tidak pernah menginjili satu orang saja seumur hidupnya. Hal-hal esensial seperti ini harusnya dibenahi dalam agenda Sinode. Persoalan Tata Gereja, program kerja, dan segala urusan teknis lainnya, seharusnya diisi dengan pemahaman pada tugas gereja (BNKP) sebagaimana diamanahkan oleh Tuhan.

Perlu diingatkan bahwa BNKP sedang mengurus rumah Tuhan, bukan mengurus hal-hal lain di luar itu. Jika hal itu terwujud, secara perlahan dampaknya akan terasa. Dampak itu akan menjadikan Pulau Nias, yang didominasi oleh warga BNKP, menjadi Pulau Beriman, pulau yang hidup dalam berkat dan anugerah Tuhan. Warga BNKP yang imannya kuat, penuh kasih dan suka mengabarkan injil adalah produk dari institusi BNKP yang berorientasi pada iman-kasih-pekabaran injil juga. Dan, institusi BNKP yang dapat menjadi berkat hanyalah jika dipimpin oleh pelayan yang dipilih oleh Tuhan, rendah hati dan mau mendengar kata-kata Tuhan, yang Empunya rumah pelayanan ini. | Fotarisman Zaluchu, Kontributor NBCJemaat BNKP di Medan

One Comment;

  1. Nias Bangkit said:

    Dalam pemilihan pemimpin di BNKP masihkah menggunakan cara-cara dunia? Atau bersandar pada arahan Tuhan? Uraian dari Fotarisman Zaluchu semoga bisa menjadi masukan yang baik buat para peserta sidang. Cc Pdt Juliman Harefa, Dorkas Orienti Daeli

Top