BAHASA NIAS

“Siawaha”, Media Ekspresi

Oleh Wa’özisökhi Nazara

Chiko, nama anjing ini, termasuk modern dan sudah mulai tidak menjadi "pelampiasan" ekspresi pemiliknya untuk menyindir orang lain atau melakukan protes terhadap suatu keadaan. | Foto: NBC/Ketjel Zagoto

NBCSiawaha bisa dianggap sebagai kata gabung karena merupakan gabungan kata si, a, dan faha.  Kata ini—yang sebetulnya merupakan klausa—di kalangan masyarakat desa di Pulau Nias tampaknya versi lebih halus untuk menyebut orang yang tidak bersikap, tidak berperilaku, atau tidak bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Siawaha biasa digunakan untuk menyatakan kemarahan, kejengkelan, atau kekecewaan terhadap sikap, perilaku, atau tindakan yang sama sekali tidak merupakan manifestasi nilai atau asumsi dasar yang dianut oleh masyarakat setempat.

Penggunaan kata siawaha menyiratkan sekurang-kurangnya tiga hal. Pertama, adanya pelanggaran norma, seperti norma susila dan norma kesopanan. Kedua, pelanggaran norma tersebut tergolong serius atau sangat tidak lazim. Ketiga, situasi tutur relatif formal dan petutur masih berusaha mengendalikan diri walaupun sangat marah atau kecewa. Kalimat “Lö i’ila zi sökhi niha da’ö, hulö ziawaha” (Orang itu tidak tahu norma, (dia) seperti anjing) menyiratkan ketiga hal ini.

Dalam keadaan sangat marah, sangat tidak formal, atau kehilangan kontrol, orang sangat mungkin menggunakan kata lain untuk mengungkapkan hal yang sama. Kata tersebut hanya terdiri atas tiga huruf asu, yang dalam konstruksi tertentu bisa menjadi 4 huruf setelah mengalami mutasi (initial mutation). ‘Hulö nasu’ atau ‘Mane nasu’ digunakan untuk mengumpati orang yang secara membabi buta melanggar norma susila atau melanggar norma kesopanan.

Jika dua orang bertengkar hebat dan sama-sama kehilangan kontrol, klausa ‘si mate’ dikolokasikan dengan kata yang terdiri atas tiga huruf tadi. Dalam konteks ini ‘si mate’ muncul setelah ‘asu’, bukan ‘asu’ di belakang ‘si mate’. Penukaran tempat antara ‘asu’ dan ‘si mate’ tidak hanya menghasilkan perubahan nama satuan lingual yang dibangun, tetapi menyebabkan perubahan makna. Secara gramatikal–fungsional, ‘asu si mate’ adalah frase sedangkan ‘si mate asu’ adalah klausa. Dari segi makna pun berbeda. ‘Asu si mate’ secara harfiah-denotatif berarti ‘anjing mati’. Akan tetapi, secara metaforis-konotatif, “asu si mate” menyatakan kehinaan dan ketidakbergunaan! Misalnya, “He asu si mate! Honogö’ö!” (Hey, bangkai anjing. Diam!)

Kata ‘asu’ bisa juga digunakan dalam kalimat yang menyatakan adanya norma sosial yang harus diperhatikan. Ini biasa digunakan untuk membela diri dari anggapan yang salah, misalnya orang yang tidak hadir pada pesta perkawinan saudaranya bisa disangka tidak memiliki rasa peduli. Akan tetapi, orang ini bukan tidak peduli. Dia tidak hadir pada pesta dimaksud karena tidak diundang atau tidak diberi tahu bahwa saudaranya akan mengadakan pesta perkawinan. Nah, ketika orang terkesan menyalahkan dia atas ketidakhadirannya pada pesta tadi, dia bisa mengatakan “Adala nasu, lö möi na lö mukokoto” (anjing pun tidak datang kalau tidak diundang).

Siawaha atau asu sering juga digunakan sebagai media ekspresi, selain yang disebutkan di atas. Hal ini terjadi beberapa dekade lalu, ketika hukum adat sangat dijunjung tinggi dan diterapkan secara tegas. Orang yang melanggar aturan/hukum adat pasti diberi sanksi. Sanksi ringan bisa berupa denda berupa uang, babi, dan teguran lisan. Orang yang secara finansial (cukup) mampu sangat mungkin tidak kesulitan membayar denda. Akan tetapi, orang merasa sangat malu jika dihukum karena hukuman/teguran merupakan konsekuensi pelanggaran yang dilakukan oleh orang yang dihukum/ditegur, apalagi disaksikan oleh banyak orang. Efek psikologis tampaknya jauh lebih besar daripada dampak finansial. Dampak finansial mungkin bisa pulih dalam beberapa bulan, tetapi dampak psikologis bagi yang dihukum/didenda bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

Tampaknya orang (desa) itu memang NIHA (Nyindir Itu Harus Afdol) alias mantap! Sindiran yang dilontarkan bisa sangat tajam, ibarat pisau cukur. Kalau sindiran itu diungkapkan secara langsung kepada orang yang disindir, orang yang menyindir bisa dihukum secara adat. “Tola lakhau ira. Tola lataba mbewera!” Mereka tentu tidak mau dihukum! Oleh sebab itu, mereka mencari media yang bisa digunakan untuk menyindir seseorang atau sekelompok orang secara tajam tanpa berurusan dengan hukum adat yang berujung dengan sanksi/kerugian bagi penyindir yang bisa dianggap menuduh tanpa alasan kuat atau dianggap mencemarkan nama baik orang!

Media ekspresi yang digunakan untuk menyindir atau mengungkapkan sesuatu tanpa berurusan dengan hukum adat itu adalah siawaha alias asu. Tampaknya, anjing dipilih karena dianggap lebih mudah dilaksanakan oleh  yang berkepentingan dan lebih efektif mencapai sasaran. Tidak sulit menamai anjing dengan sindiran. Misalnya, seorang warga yang menamai anjingnya Gama’u’u untuk menyindir kepala kampung yang dianggapnya rakus dan egois. Caranya mudah. Penyindir cukup mencubit/menjepit dengan jarinya satu telinga anjing yang akan digunakan debagai media sambil mengatakan “Gama’u’u döimö! Gama’u’u döimö! Gama’u’u döimö!

Sindiran atau ungkapan lain yang disampaikan dengan menjadikan anjing atau nama anjing sebagai sasaran cukup efektif. Anjing sering berada di rumah atau mengikuti pemiliknya bekerja atau berkunjung ke suatu rumah/tempat. Dengan demikian, kesempatan anjing atau nama anjing itu dipanggil  atau digunakan sebagai media mengungkapkan sesuatu oleh pemiliknya sering ada. Hal ini berarti bahwa sindiran atau ungkapan lewat anjing atau nama anjing itu berpeluang besar sampai ke telinga orang yang disasar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukan tidak mungkin orang yang disasar terpaksa mendengar sindiran/ungkapan lewat anjing atau nama anjing itu beberapa kali dalam sehari!

Sikap, perilaku, dan tindakan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku tentu tidak tunggal. Ungkapan lain yang memerlukan media ini pun jamak. Oleh sebab itu, sindiran, protes, atau ekspresi lain yang dinyatakan melalui anjing atau nama anjing tidaklah tunggal. Ada anjing dinamai Kondro’ua, untuk menganjurkan agar orang yang disasar sabar dan merendah dulu.  Ada siawaha yang dinamai Löbiko untuk menyatakan pendapat mengenai orang yang bersikap seolah-oleh hebat atau sombong. Ada juga anjing yang dinamai Fataula, untuk mendorong orang mengambil risiko, atau Marase untuk menyatakan penderitaan menanggung beban (misalnya merasa menderita karena tidak bisa mamakaerua, berpoligami), atau nama lain untuk menyatakan yang lain pula.

Ungkapan sinis, kritik, protes, dan lain-lain bisa disampaikan seolah-olah pada anjing. Misalnya, orang yang diketahui telah melakukan perselingkuhan tetapi tidak dapat dihukum karena bukti fisik perselingkuhannya kurang kuat atau tidak ada bisa disindir-sindir lewat anjing. Caranya gampang: seseorang bisa berbicara seolah-olah menyindir anjingnya dengan berkata: “Duhu nasu andre! Lö i’ila zi sökhi, ba lö aila-aila!” (anjing ini benar-benar tidak tahu sopan santun dan tidak punya rasa malu). Ini hanya satu contoh, ungkapan lain bisa digunakan.

Tampaknya, orang dulu itu senantiasa berusaha pintar seperti ular, onekhe hulö gulö, dan menghendaki tulus seperti merpati, atulö hulö marafadi!  Kalau dipikir-pikir, hebat juga ya! [Wa’özisökhi Nazara (Ama Wise), Dosen, Tinggal di Padang]

2 Comments

  1. Nias Bangkit said:

    Siawaha? Kalau dalam bahasa Jawa, segawon alias kirik. Penamaan nama anjing di Pulau Nias sering punya makna. Makna untuk menyindir, memprotes keadaan. Belajar bahasa Nias yuk..

  2. Apolonius Lase said:

    Siawaha? Kalau dalam bahasa Jawa, segawon alias kirik. Penamaan nama anjing di Pulau Nias sering punya makna. Makna untuk menyindir, memprotes keadaan, dll. He-he. | Cc. Wa'özisökhi Nazara, Ketjel Zagoto, Ketut Wiradnyana.

Top