FO’ATULÖWA ZEBUA

Sopir Taksi, Mengapa Tidak?

Fo'atulowa Zebua | www.nias-bangkit.com

NBC — Merantau adalah sebuah keputusan domestik setiap pribadi. Ketika seseorang memutuskan untuk keluar dari daerah kelahiran, semua risiko yang mewarnai perjalanan harus bisa ditanggung sendiri. Satu yang diharapkan, perbaikan derajat kesejahteraan.

Hal ini dialami Fo’atulöwa Zebua (40), warga Nias asal Tumöri, Kota Gunungsitoli, yang sehari-hari dipanggil Si Nias di lingkungan tempat kediamannya di Patal Senayan. Mengadu nasib di Jakarta ia jalani sejak 1990. Mulai dari menjadi penjual makanan di pinggiran rel kereta api di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, menjadi pedagang asongan, menjadi sopir pribadi bagi orang asing yang tinggal di Jakarta, dan sekarang jadi sopir di sebuah perusahaan taksi ternama di Jakarta sejak Februari lalu.

Ada hal yang menarik yang bisa kita ambil dari ayah 3 orang anak ini, yakni totalitas dan kreativitas yang dilakukan saat mengerjakan pekerjaan yang dilakukannya. Menjadi sopir taksi sejak awal Februari 2012, setelah dua bulan bekerja, dia tiba-tiba dipanggil ke kantor pusat perusahaan taksi itu. Awalnya ia deg-degan dan bertanya-tanya apa gerangan kesalahan yang ia buat sehingga harus dipanggil.

“Saya hanya diberitahu bahwa ada banyak laporan dari pelanggan. ‘Untuk itu, harap saudara datang ke kantor pusat’,” ujar Fo’atulöwa kepada NBC, menirukan telepon dari pegawai bagian personalia kantor taksi tempat ia bekerja tersebut.

Semalaman ia tidak bisa tidur dan masih belum tahu apa keperluan ia dipanggil. Sesampai di kantor, ia pun baru diberitahu bahwa banyak laporan dari klien taksi yang dia bawa. “Anda sudah membuat taksi ini semakin disenangi orang. Dan, kami sangat berterima kasih untuk itu,” ujar Manajer Kantor perusahaan taksi tersebut.

Tak lama pun ia akhirnya didaulat dan ditulis dalam majalah internal perusahaan taksi tempat ia bekerja sebagai sopir berprestasi. Satu halaman penuh di edisi Maret-April 2012 pun majalah Mutiara Biru pun diisi dengan laporan tentang Si Nias.

Kudapan Gratis

Fo’atulöwa Zebua menyediakan makanan ringan untuk para penumpang yang menaiki taksinya. Ide dan kreativitasnya inilah yang membuat dia dapat penghargaan dari perusahaannya.

Fo’atulöwa terpilih sebagai sopir berprestasi karena kreativitasnya menyediakan beberapa jenis kudapan atau makanan ringan di dalam taksinya untuk para penumpang. “Saya berpikir banyak penumpang yang jenuh dengan perjalanan dan kemacetan di Jakarta. Mengapa tidak saya sediakan permen dan beberapa makanan ringan di taksi yang saya bawa. Barangkali sedikit membuat para penumpang senang dan melupakan kepenatan karena kemacetan selama perjalanan. Biasanya kalau pagi itu kan, karena terburu-buru, penumpang ada yang tidak sempat makan. Nah, snackyang ada ini setidaknya sedikit membantu mereka,” ujarnya.

Pria 40 tahun ini mengaku selalu mengutamakan ketulusan dan kejujuran saat menjalani pekerjaannya sebagai sopir taksi. “Ketika berangkat dari rumah pada pukul 03.30 dini hari. Saya selalu berdoa dan memiliki niat bahwa hari ini bekerja dengan baik. Saya tahu, bagaimanapun Tuhan yang Mahabaik itu akan memberikan rezeki kepada setiap orang yang sungguh-sungguh bekerja. Pokoknya, saya selalu berusaha membuat penumpang saya sedapat mungkin nyaman dengan jasa yang saya berikan,” tuturnya.

Rata-rata penumpang, yang menggunakan jasa taksi, kata Fo’atulöwa,  sangat senang bila sopir yang membawa mereka ramah dan tidak cemberut kepada penumpang.

“Saya tak peduli orang yang naik taksi hanya meminta diantar sejauh 300 meter. Saya angkut saja. Dan, kebanyakan memang orang seperti itu memberikan ongkos lebih. Misalnya, argonya hanya Rp 8.000, mereka biasanya bayar Rp 10.000 atau Rp 15.000. Begitu saya mau kembalikan, mereka bilang, ‘tak usah dikembalikan, Pak’. Ada yang bayar pas sesuai argo, saya juga terima dengan senang hati, tanpa sedikit pun cemberut,” ujarnya.

Apa yang Si Nias jalankan ternyata membuahkan hasil. Setiap hari ia selalu bisa memenuhi target setoran yang ditetapkan dan bisa membawa uang cukup ke rumah. Bahkan, dengan begitu, ia selalu berhasil mendapatkan bonus sebesar Rp 1.500.000 per bulan karena target setoran yang terus terpenuhi.

“Ketika saya menjadi sopir pribadi gaji saya sebulan hanya Rp 2,5 juta. Dibanding sekarang, pendapatan saya lumayan. Bersih saya bisa bawa uang Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari di luar bonus bulanan,” ujarnya kepada NBC.

Fo’atulöwa oleh tetangganya memang dikenal sebagai pekerja keras. Para tetangganya pun tahu bahwa tanah kosong milik pemerintah di dekat jalan layang di Patal Senayan itu dikelola oleh “Si Nias” dengan menanami pisang. Uniknya, setiap pisang itu berbuah tak pernah ia jual. “Saya bagi-bagi saja kepada tetangga. Semua senang ketika saya bawain mereka pisang,” ujarnya.

Konsep pengelolaan lahan kosong ini pun pernah ia tularkan kepada saudara-saudaranya di kampung. Dan, diakuinya, keluarganya di kampung tidak kekurangan bahan makanan, meskipun musim hujan atau masa paceklik karena tidak bisa menyadap karet. “Memang sedikit lelah. Yang dibutuhkan adalah rajin dan niat saja. Saya selalu imbau saudara-saudara saya agar tidak menyia-nyiakan waktu untuk menanami lahan kosong. Saat hujan, tidak bisa menyadap karet, ayo menanam pisang. Lama-lama pasti akan dapat hasil,” begitu Si Nias memaparkan konsepnya.

Fo’atulöwa sejauh ini mengaku menikmati pekerjaannya. Hasil dari sebuah kios barang kelontong yang dikelola istrinya sejak ia menjadi sopir taksi dia akui ditunjukkan untuk keperluan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Anak tertuanya, Ivan, kini sekolah di sebuah SMK swasta Tarakanita. Anak keduanya, Natan, kini kelas V SD di Tarakanita 3, Juraganan, Jakarta Selatan. Anak ketiganya tahun ini akan masuk TK di Tarakanita 3 juga. Meskipun sekolah yang mahal, tetapi Si Nias mengaku ada saja jalan untuk bisa membayari biaya sekolah anaknya. Bakat anaknya nomor dua bermain sepak bola pun ia dukung dengan memasukkannya ke SSB Ricky Yakobi yang berlatih di Lapangan ABC Senayan.

“Anak-anak saya sebenarnya termasuk orang yang menerima beasiswa dari gereja tempat saya ibadah di Blok M. Namun, saya memilih untuk meminta beasiswa itu diberikan kepada yang lebih tak mampu dari saya saja. Saya akui, memang biaya menyekolahkan anak ini lumayan mahal. Tetapi, saya berpikir, biarlah dengan begitu saya selalu bisa giat bekerja dan berapa pun penghasilan saya,” demikian Fo’atulöwa suatu waktu kepada NBC.

Di sebuah rumah sederhananya, Fo’atulöwa berbaur dengan warga dari berbagai etnis dan agama. Si Nias pun bisa beradaptasi. Lihat saja ketika hari Natal tahun 2011, ia menyediakan waktu open house. “Selama seharian di saat Natal yang lalu, tetangga pada datang untuk mengucapkan selamat Natal. Ada yang bawa makanan dan saya juga secara khusus menyediakan makanan seadanya untuk mereka,” ujar Si Nias soal pentingnya beradaptasi dengan para tetangga.

Fo’atulöwa Zebua, sang sopir taksi, lewat pengalamannya memberi kita pelajaran berharga bahwa apa pun pekerjaan kita, bila dilajalankan dengan jujur dan tulus, akan membawa hasil yang baik juga. “Jadi sopir taksi harus dibawa enak saja. Sebab, kalau tidak, kemacetan bisa membuat emosi kita tidak stabil,” ujarnya.

Kini buah dari ketulusannya ia mulai nikmati, meskipun tidak selalu gampang untuk dijalani. “Saya sudah mulai bisa menabung untuk masa depan anak-anak. Mudah-mudahan saya juga bisa buka asuransi kesehatan buat saya agar terproteksi sebagai kepala keluarga,” ujar Si Nias yang mengaku banyak mendapat order langsung dari eks penumpangnya yang lama. Bahkan, beberapa orang luar negeri yang sering datang ke Jakarta meneleponnya langsung untuk diantar ke mana mereka mau.

Selalu menjadi yang terbaik, Nias! [SOTAFI LIE]

BIOGRAFI SINGKAT

  • Nama Lengkap: Fo’atulöwa Zebua (40)
  • Nama Panggilan: Nias
  • Nama anak: 1. Ivan 2. Natan, Abel
  • Asal: Tumöri, Kota Gunungsitoli
  • Alamat: Jl. Tentara Pelajar, Juraganan, Jakarta Selatan.

23 Comments

  1. Perry Zebua said:

    memang beliau ini sangat luar biasa…..apapun pekerjaan pernah dilakoninya, dan yg paling salut dia mengerjakannya dengan serius dan sepenuh hati….masalah berhasil atau tdk itu nmr sekian yg penting apapun yg di kerjakannya harus tuntas dan sangat diyakini akan berhasil, dan keyakinan ini yg sampai hari ini membuat beliau ini jarang gagal apabila mengerjakan sesuatu….selamat buat pak zebua semoga sukses terus dan menjadi contoh yg baik buat kita2 diperantauan khususnya putra-putri nias dimanapun berada.

  2. Apolonius Lase said:

    Selamat Pak Zebua. Saya suka bagian ini: “Ketika berangkat dari rumah pada pukul 03.30 dini hari. Saya selalu berdoa dan memiliki niat bahwa hari ini bekerja dengan baik. Saya tahu, bagaimanapun Tuhan yang Mahabaik itu akan memberikan rezeki kepada setiap orang yang sungguh-sungguh bekerja. Pokoknya, saya selalu berusaha membuat penumpang saya sedapat mungkin nyaman dengan jasa yang saya berikan.” Sukses Bang Ama Ivan.

  3. Nias Bangkit said:

    Bekerja dengan jujur dan tulus… Itulah yang dijalankan oleh Pak Fo'atulöwa Zebua. Bekerja sebagai sopir taksi di Jakarta yang disenangi semua penumpang dan juga perusahaannya. Terima kasih inspirasi yang Anda berikan kepada kami. Apa saja yang dilakukan oleh Si Nias ini? Baca saja di sini.

    • Derma Telaumbanua said:

      Sangat inspiratif. Semoga seluruh warga suku Nias dimanapun mereka merantau dan apapun profesi mereka, ßîsã melakukan yg terbaik utk diri sendiri, keluarga,sesama dan utk Tuhan.

  4. Nias Bangkit said:

    Menjadi sopir taksi sudah biasa. Tetapi, bagi putra Nias asal Tumori ini menjadi sopir taksi di Jakarta harus beda. Apa yang dilakukan Si Nias ini, sangat inspiratif. Simak saja di artikel ini.

Top