WAWANCARA DENGAN HEKINUS MANAÖ

Pemda Nias Selatan Mesti Lebih Aktif

NBC — Saat kembali ke kampung kelahirannya, Bawömataluo, Nias Selatan, Direktur Eksekutif Bank Dunia Hekinus Manaö, pekan lalu, sadar bahwa begitu banyak potensi tak berkembang di sana. Untuk memecahkannya perlu usaha di tingkat lokal dan nasional yang memadai. Tentu bukan urusan gampang, tetapi warisan yang ada mesti berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sayang, upaya Pemerintah Kabupaten Nias Selatan masih jauh dari maksimal. Prioritas utama pemerintah bukan pada upaya mengangkat desa itu agar menjadi Warisan Dunia. Masalah infrastrutur menjadi pilihan utama, mereka menganggap hal itu bakal langsung dirasakan masyarakat.

Kedatangan Hekinus Manaö dan rombongan dari Bank Dunia lebih untuk melihat secara langsung bagaimana kondisi Omo Sebua dan juga desa budaya Bawömataluo. Soal kelanjutannya sangat bergantung pada upaya dari Pemerintah Kabupaten Nias Selatan untuk menyambut bantuan ini.

Pemerintah Daerah Nias Selatan belum  berbuat banyak agar Bawomataluo jadi Warisan Dunia. Foto Desti Hulu

Hekinus Manaö saat meninjau sumber air minum di Desa Bawömataluo, Nias Selatan, Sabtu (16/6/2012). | Foto: NBC/Desty Hulu

Siang itu, Sabtu (16/6/2012), Desty Hulu dan Ketjel Zagötö dari NBC mendapat kesempatan berbincang dengan dengan peraih gelar doktor bidang Accounting; Minor: Finance & Information Systems di Cleveland State University, Ohio USA pada tahun 1995 itu. Kendati baru selesai meninjau lokasi pembangunan fasilitas air bersih, ayah dari Jesse Manaö, Elisabeth Manaö, Jeremy Manaö, dan suami dari Inti Zebua itu dengan senang hati meluangkan waktunya. Berikut petikan perbincangan mereka:

Anda kembali ke kampung halaman dalam rangka apa?

Kunjungan saya kali ini dalam rangka kerja. Rencana saya akan berangkat ke Amerika Serikat tanggal 25 Juni. Setelah melihat proyek air bersih di Bawömataluo ini, saya akan ke Jawa Timur untuk mengunjungi beberapa proyek PNPM. Lalu memberikan kuliah umum di Brawijaya dan mengunjungi kegiatan komunitas masyarakat untuk dana bergulir.

Tampaknya Anda terus memikirkan desa ini.

Apa yang dilakukan World Bank di Nias khususnya yang dikerjakan oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) di Bawömataluo, semata-mata adalah bakti dunia. Saya hanya bagian dari proses dan kebetulan berasal dari desa ini. Jadi, tidak betul bahwa semua ini karena saya. So… it’s not because of me.

Saat Stefan G. Koeberle, Country Director World Bank pulang berkunjung dari Nias pada akhir Januari 2012, kami bertemu di Washington DC dan sempat membahas tentang restorasi rumah adat Omo Sebua di Desa Bawömataluo. Kami sepakat bahwa dibutuhkan partisipasi dari berbagai pihak, terutama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan untuk terlibat.

Apa yang seharusnya dikerjakan Pemkab Nias Selatan?

Saya pribadi tidak bisa berharap banyak bahwa Pemkab Nias Selatan akan mau terlibat karena sudah jelas prioritas anggaran mereka, lebih pada pembangunan dan perbaikan infrastruktur yang hasilnya langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. Yah… seperti jalan, sekolah, puskesmas dan pasar. Pemkab Nias Selatan belum memiliki anggaran yang menaruh perhatian khusus terhadap situs-situs peninggalan bersejarah di Nias Selatan.

Ada lembaga-lembaga Internasional yang memang memiliki perhatian khusus terhadap peninggalan bersejarah di dunia ini. Namun, mereka pun tidak bisa begitu saja datang dengan sendirinya. Partisipasi pemerintah daerah harus ditunjukkan melalui inisiatif mengajukan proposal yang ditujukan kepada lembaga-lembaga internasional tersebut.

Lantas cara yang baik untuk mengembangkan desa ini?

Salah satu cara untuk menarik UNESCO agar menjadikan Omo Sebua sebagai Warisan Dunia adalah dengan menjadikannya sebagai isu nasional. Ini pun harus dapat dukungan dari Pemkab Nias Selatan dan berupaya mengangkat isu ini ke Kementerian Pariwisata. Sehingga Kementerian Pariwisata juga membawa isu tersebut ke level yang lebih tinggi. UNESCO pernah berniat untuk melihat kemungkinan Omo Sebua menjadi Warisan Dunia, tetapi lagi-lagi ini berpulang dari inisiatif Pemkab Nias Selatan. Kita seharusnya bisa menunjukkan kepada mereka, kita punya cita-cita yang sama dengan mereka

Harapan saya, masyarakat terus menjaga tempat-tempat wisata dan peninggalan budaya kita dari berbagai aspek. Pemerintah Kabupaten Nias Selatan saya harap lebih berperan aktif dalam pengembangan potensi pariwisata.

Apa masalah utama di sini?

Khusus mengenai Bawömataluo, saya cenderung melihat masalah utama di sini adalah soal ketersediaan air. Karena tanpa pasokan air yang cukup, wisatawan enggan untuk berlama-lama di Bawömataluo. Air dan akomodasi yang mudah akan membuka peluang wisatawan akan datang dan menginap di desa Bawömataluo.

Potensi pariwisata di Nias Selatan itu masih sangat besar untuk dikembangkan. Namun, sangat disayangkan masyarakatnya masih belum siap. Dunia pariwisata adalah dunia yang penuh dengan keramahan, kenyamanan, dan keamanan. Itulah sebenarnya tugas Dinas Pariwisata, membina kelompok-kelompok masyarakat untuk lebih ramah kepada wisatawan.

Kalau kondisi di luar Bawömataluo bagaimana sekarang?

Dalam pikiran semua orang, sesungguhnya Nias sudah pulih. Lihat saja Jalan Raya Gunungsitoli-Teluk Dalam. Sebelum gempa, sebelum ada bantuan dari lembaga-lembaga Internasional kita butuh waktu satu hari untuk menempuhnya. Sekarang, paling lama 3 jam sudah tiba di tempat tujuan dengan aman. Itu baru satu contoh.

Saya sudah berkunjung ke sejumlah negara di dunia. Mulai dari Nepal, Laos, Vietnam, Fiji, Sudan, India, Banglades, Afganistan bahkan Palestina. Indonesia ternyata tidak terlalu terbelakang. Nias pun tidak terlalu terbelakang. Inti sebenarnya yang mau saya katakan adalah bagaimana kita percaya pada diri sendiri. Sarana dan prasarana yang sudah ada, rawatlah. Sayang, pemda hanya fokus pada kepentingannya sehingga kurang mendorong masyarakatnya untuk lebih kuat dari sisi mental.

Bagaimana kerja sama Bank Dunia dengan Indonesia, termasuk Nias?

Kerja sama antara World Bank dan Pemerintah Indonesia telah berjalan dengan sangat baik. Salah satunya dengan program kegiatan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Red). PNPM Indonesia telah jadi percontohan untuk negara-negara yang ingin melaksanakan program serupa. Ketika saya di Maroko, satu tahun yang lalu, pemerintah di sana bercerita bahwa mereka baru mengutus beberapa orang untuk pergi ke Indonesia untuk melihat secara langsung dan belajar bagaimana proses kegiatannya berlangsung.

Begitulah, saya justru mengelus dada setelah mengetahui dana PNPM di Nias Selatan justru ditolak oleh bupati. Padahal, alokasi dana dari Kementerian Keuangan untuk PNPM di Nias Selatan berjumlah Rp 40 miliar  per tahun. Ini sudah 2 tahun berturut-turut di Nias Selatan tidak menerima dana PNPM. [DES/KPZ]

6 Comments

  1. Komunitas Nias Selatan said:

    Saya mengutip perkatan Bapak Hekinus Manao "Prioritas utama pemerintah bukan pada upaya mengangkat desa itu agar menjadi Warisan Dunia. Masalah infrastruktur menjadi pilihan utama, mereka menganggap hal itu bakal langsung dirasakan masyarakat".
    Awali membangun daerah itu dengan infrastruktur yang memadai terlebih dahulu… baru pikirkan go internasionalnya.

  2. Nias Bangkit said:

    Hekinus Manao, Direktur Eksekutif Bank Dunia bersama rombongan mengujungi Desa Bawömataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, untuk melihat Omo Sebua. Tim ini juga melihat sumber air minum untuk memasok warga di desa budaya ini. Apa pendapatnya soal kunjunganya? Apa juga pendapatnya tentang pemerintah daerah setempat? Simak wawancara khusus NBC di tulisan ini.

Top