KEAMANAN TEMPAT PARIWISATA

Seharusnya Agus Bisa Ikut UN Tahun Ini …

Peringatan bahaya ini baru dipasang setelah kejadian Agus Feriaman Harefa tenggelam dan ditemukan tewas. Kita tidak ingin ada korban lagi.

GUNUNGSITOLI, NBC Hati orangtua mana yang tidak hancur saat anak darah dagingnya menghilang dan tidak ditemukan selama dua hari. Harapan untuk mengantarkan anaknya bisa lulus SMK tahun ini buyar sudah.

Amieli Harefa, ayah dari Agus Feriaman Harefa, siswa SMK kelas III Hiliserangkai, yang tenggelam, Senin (9/4/2012), tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Mesti ia berusaha tegar dan mengikhlaskan kepergian anaknya, matanya tetap sembab tatkala NBC berbincang-bincang sesaat sebelum pengangkatan jenazah anaknya.

“Agus baru duduk di kelas III SMK. Ia genap berusia 20 tahun pada 17 Agustus mendatang. Dia pernah menganggur selama dua tahun,” ujar Amieli.

Tanggal 16 April 2012 seyogianya Agus mengikuti Ujian Nasional 2012. Harapannya untuk segera menamatkan sekolahnya hanyalah menjadi kenangan bagi keluarga. Dalam menghadapi UN, diungkapkan Amieli, Agus terus belajar. Bahkan, beberapa minggu terakhir ia jarang keluar rumah.

“Beberapa minggu terakhir, ia banyak diam dan hanya belajar di rumah untuk persiapan UN. Tak ada firasat apa pun bahwa ia pergi begitu cepat dan meninggalkan kami untuk selamanya. Buku bahasa Indonesia yang ia pelajari masih terbuka di atas belajarnya,” kata Amieli terbata-bata tak bisa menahan rasa harunya.

Meskipun begitu, Amieli dan seluruh keluarga pasrah dengan kenyataan yang dialami oleh anak kelima dari 8 bersaudara ini. Diajak oleh pamannya berwisata di Pantai Carlita, kemudian bertemu dengan dua temannya dan sepakat berenang di laut yang terkenal angker dan telah banyak memakan korban.

Upaya pencarian selama 2 hari oleh Tim SAR dan Polisi tidak membuahkan hasil. Akhirnya Agus ditemukan sudah tidak bernyawa oleh seorang nelayan bernama Arisman Zega di laut yang terletak di Desa Luaha Bo’usö, Kecamatan Gunungsitoli Utara, yang berjarak 3 kilometer dari lokasi Agus tenggelam, Rabu (11/4/2012).

Peringatan Bahaya

Kepergian Agus Feriaman Harefa tentu membawa duka yang dalam, terutama bagi keluarga. Hanya sikap pasrah dan ikhlas yang bisa membendung duka yang ada.

“Semua sudah terjadi. Saya dan keluarga hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan kepergian anak kami. Saat masih dicari, kami hanya berharap bisa segera ditemukan dalam keadaan apa pun. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan mereka sehingga bisa menemukan jenazah anak kami,” kata Amieli.

Terlepas dari ini adalah sebuah musibah yang diizinkan Yang Maha Kuasa terjadi. Namun, sejumlah tanya pun berkecamuk di benak kita. Fakta yang kita temukan bahwa ternyata tempat Agus tenggelam telah banyak memakan korban.

Sejak tahun 1975, sudah 8 orang tewas di tempat itu. Agus Feriaman Harefa adalah korban yang kedelapan. Kita tentu mengharapkan ini tidak terjadi lagi. Biarlah ini yang terakhir.

Fakta yang kita temukan, papan peringatan bahaya baru dipasang setelah kejadian peristiwa Agus tenggelam. Sebelumnya tidak ada petunjuk apa pun yang bisa dilihat pengunjung bahwa tempat itu berbahaya.

Kita tentu berandai-andai, bila saja tanda petunjuk itu ada sejak awal, korban tidak akan ada. Sekarang semua sudah terjadi. Biarlah kejadian ini menjadi peringatan bagi semua pihak, terutama para pemangku kepentingan di kawasan Pantai Carlita agar bisa berperan.

Kemudian pemerintah Kota Gunungsitoli juga kita belum tahu usaha yang dilakukan untuk merespons kejadian ini. Sebaiknya, nyawa orang yang hilang harus bisa dihargai, paling tidak dengan merespons, membuat pernyataan, dan bertindak untuk menghindari terjadinya musibah ini. Sebab, bukan tidak mungkin ini menjadi preseden buruk bagi pariwisata di Kota Gunungsitoli, terutama tingkat keamanan tempat-tempat pariwisata.

Sebagai tuan rumah, Pemerintah Kota Gunungsitoli sudah pada tempatnya bertanggung jawab untuk mengantisipasi tidak terjadinya korban dan menghindari ada korban lain lagi. [IRWANTO HULU]

8 Comments

  1. Nias Bangkit said:

    Ya…. Pemerintah seharusnya peduli dan responsif dalam kejadian ini. Mengapa Pemkot sama sekali tidak memberikan komentar ya. Apakah mereka sudah tidak peduli lagi dengan kejadian seperti ini?

  2. Nias Bangkit said:

    "Hati orangtua mana yang tidak hancur saat anak darah dagingnya menghilang dan tidak ditemukan selama dua hari. Harapan untuk mengantarkan anaknya bisa lulus SMK tahun ini buyar sudah."

    Lewat peristiwa ini, kita yang hidup, siapa pun, termasuk pengelola tempat wisata, dan utamanya Pemerintah Kota Gunungsitoli, untuk bisa belajar dan bertindak agar tidak ada lagi korban. Bisa saja kejadian itu tidak terjadi, bila ada peringatan bahaya sejak dini. Dan, Agus Feriaman Harefa, mungkin bisa ikut UN tahun. Namun, Tuhan berkehendak lain.

Top