Roadshow Gambara di Bandung

Budaya Bisa Dilestarikan Kalau Ada Kepentingan

NBC — Melestarikan warisan budaya bukan  soal gampang. Masyarakat terus berkembang mengikuti jaman. Tak semua warisan perlu dilestarikan. Bila ada kepentingan masyarakat, pelestarian  itu akan mudah. Sayang tak  banyak informasi budaya yang disebarkan di tengah masyarakat

Pada sore Sabtu (28/4/2012), suasana Mr Komot  Caffe yang ada di Jalan Citarum Bandung berbeda ketimbang biasanya. Rupanya sejak pagi puluhan orang hilir mudik datang. Mereka bukan pengunjung biasa yang bermaksud  melepas kepenatan di akhir pekan.

Untuk hajatan hari itu sebuah tenda besar berdiri lengkap dengan  kursi-kursi yang berderet rapi. Pada bagian dinding tergantung foto-foto para pemenang Gambara Nias Bangkit 2010. Sementara pada layar monitor televisi ukuran besar diputar film  dokumenter kehidupan sosial di Flores.

Rombongan fotografer nampak paling mencolok ketimbang orang-orang lain. Lebih dari 30 orang bahkan ikut  berkompetisi dengan memotret kehidupan seputar jalan Braga. Kendati ajang berburu foto bukan barang langka namun mereka nampak menikmati kesempatan adu  ketrampilan kali.

Dua Fotografer handal Makarios Sukotjo dan Ray Sugiarto memfasilitasi anak-anak muda itu agar mampu menghasil gambar-gambar yang bercerita sekitar kehidupan sosial di Braga.

“Mereka sudah cukup terampil kok memotret kehidupan menjadi rangkaian gambar berlatar human interest,” tutur Makarios Sukojo.

Setelah melewati proses penilaian, tiga orang peserta memenangkan lomba. Mereka adalah Anita Pusporini,  pemenang pertama dengan foto-foto yang  menggambarkan kegembiraan ibu dan anaknya yang tengah bercengkrama di dekat jendela rumah. Panitia memberikan hadiah buatnya  berupa paket studio lighting.

Sedangkan Howard Godjali, dengan karya foto yang mengambarkan suasana kerja meraih juara kedua. Dia mendapatkan hadiah berupa Tripod bermerek Victory. Sementara Arnold Arief menjadi  pemenang ketiga mendapatkan Trigger Pixel_S.

Panitia juga masih memberikan lima hadiah berupa voucher senilai Rp 200.000 kepada pemenang hiburan. Hadiah itu didapatkan dari sponsor Papyrus Photo Studio.

Hadiah-hadiah dari Komunitas Visual Gambara dalam roadshow di Bandung  memang tak banyak. Tujuan utama kegiatan adalah memupuk rasa cinta tanah air dengan memahami warisan budaya yang  ada di lingkungannya.

Kurang dikenal

Sebagaimana di kota lain, budaya dan realitas sosial di Nias dan Flores sampai kini masih merupakan sesuatu yang asing. Masyarakat Bandung secara umum tak terlalu tahu informasi dasar kedua pulau itu  yang punya warisan budaya eksotis itu.

Roadshow Gambara ke Medan,Bandung, Denpasar, Surabaya  dan Yogyakarta diharapkan mampu memperkenalkan wilayah  Nias  dan Flores. Dua wilayah itu merupakan pulau ukuran cukup besar yang terlewatkan atau tepatnya terlupakan. Padahal dari sisi budaya keduanya cukup kaya.

Nias merupakan pulau terluar di Samudera Indonesia. Luasnya 5625 kilometer persegi  dengan populasi sekitar 700.000 jiwa. Ia menjadi terkenal lantaran dua bencana yang meluluhlantakannya 7 tahun lalu, selanjutnya orang kembali melupakannya padahal realitas sosial pasca bencana cukup mengenaskan.

Pengalaman memotret dan bekerja di Nias akan menjadi bekal untuk mengerjakan hal serupa di Flores. Bagi Komunitas Gambara, bersama unit kerja lain seperti Majalah Warisan Indonesia serta situs berita  Floresbangkitdotcom, Flores merupakan wilayah yang tepat untuk menemukan bagaimana masyarakat amat  mencintai bangsanya.

“Mungkin karena Bung Karno pernah ditahan di sana selama  masa pergerakan dahulu,”ujar Koordinator Gambara saat peluncuran buku Nias Aftermatch sore itu.

Kepentingan

Kenyataannya jaman terus berubah. Budaya Indonesia sebagaimana masyarakat lain punya karakter adaptif pada perubahan. “Sehingga kita perlu menyadari bahwa tak semua warisan budaya tepat untuk dilestarikan,”tutur Bambang Sugiharto, guru besar filsafat, Universitas Parahyangan, yang tampil sebagai salah seorang pembicara talkshow sore itu.

Menurut dia, kita mesti menetapkan warisan macam apa yang perlu dilestarikan. Bahasa, dalam hal ini, merupakan sesuatu yang penting untuk dilestarikan. Dalam bahasa terkandung identitas, sejarah peradaban serta nilai-nilai filosofis bangsa.  Hal  lain yang perlu dilestarikan, menurut dia, adalah pengalaman masa colonial.

Dengan demikian di tengah kekayaan warisan budaya kita mesti merumuskan atas kepentingan kita melestarikannya. Namun kepentingan itu sendiri, menurut Selly  Riawanti, antropolog Unpad, yang juga tampil sebagai pembicara lain, dapat dibangkit dalam pikiran warga lewat sosialisasi karya-karya sebagaimana dilakukan oleh komunitas Gambara. Donny Iswandono

Top