Antara TI, Pengembangan Produksi serta Potensi Desa di Nias

Nias belum siap memanfaatkan bantuan infrastruktur teknologi informasi yang disiapkan pemerintah. Padahal potensi pertanian masih belum berkembang, petani yang tinggal di desa terisolir perlu belajar mengenal metode produksi moderen. Sayang perangkat pemerintah tak siap menerimanya

Penghasilan utama penduduk berasal dari pertanian. Luas lahan potensial mencapai 81.389 hektare yang terdiri dari sawah 22.486 hektare dan lahan kering 58.903 hektare. Namum, potensi yang dimiliki itu belum memberikan hasil maksimal untuk mampu mencapai swasembada pangan. Terbukti, kabupaten ini pada tahun 1999 masih mendatangkan beras dari luar daerah sebanyak 22.323 ton.

Tak jauh berbeda pula dengan keadaan hasil perkebunan. Alam  Nias yang subur sangat cocok untuk budi daya tanaman karet, kelapa, kopi, cengkeh dan nilam. Karet dan kopra pernah menjadi andalan utama hasil perkebunan. Produksi karet pada 1999 mencapai 13.624 ton, dan kopra 42.230 ton.

Hingga saat ini Nias masih relative terisolir. Banyak desa yang sulit diakses karena infrastrukturnya buruk. Fasilitas jalan raya, listrik tentu saja sarana angkutan dan telekomunikasi amat terbatas. Itulah penyebab utama dunia tidak mengenal Nias.

Sarana Komunikasi

Di Sumatera Utara, sejak tahun 2009, pemerintah telah membangun jaringan telepon pedesaan sebanyak 2.967 unit. Tahun 2010 Kantor Kementrian Komunikasi dan Informasi kembali  membangun Pusat Layanan Informasi Kecamatan (PLIK) di 337 kecamatan. Selanjutnya, tahun 2011 menyiapkan  sebanyak 96 unit Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) untuk melayani  385 kecamatan.

Dalam tahun anggaran  2012 ini, pemerintah kembali berencana memberikan layanan kominkasi nirkabel   kepada 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Ini merupakan bagian dari program Universal Service Obligation (Kewajiban Pelayanan Universal) Sumatera Utara oleh Kantor Kominfo RI.

Tentu ironis membaca berita NBC yang mengabarkan bahwa Kabupaten Nias “menolak” bantuan MPLIK di kecamatannya. Padahal, bantuan ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis, pun demikian pemerintah Nias tidak mau menerimanya dengan alasan ketidaksiapan SDM-nya.

Selain gratis, bantuan yang diberikan oleh Menkominfo RI tersebut merupakan sarana pembelajaran dalam mencerdaskan anak bangsa sebagai generasi selanjutnya untuk memahami Teknologi Informatika (TI). Namun, mengapa persoalan SDM saja tidak bisa diupayakan oleh pemerintah Kabupaten Nias.

Jika kita menilik, korelasi antara TI dalam memajukan produksi dan pengembangan potensi yang ada di Kepulauan Nias sangat erat. Ketersediaan sarana TI bakal  menunjang pemahaman masyarakat khususnya di bidang pertanian. Mereka bisa melihat langsung di internet bagaimana cara pengembangan hasil produksi, membuat pupuk dengan mudah misalnya, cara meningkatkan produksi hingga menghadapi persaingan atau hal-hal lainnya, cukup mudah dan tinggal klik saja.

Hal itu mengingatkan perbincangan NBC dengan seorang staf pengajar  Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Hariyadi, MS. Dia mengingatkan bahwa agar penanganan hasil karet kepulauan Nias bisa maksimal, diperlukan pengelolaan yang baik dan benar, mulai dari pemilihan bibit, perawatan, dan pemasaran.

Penggunaan bibit biji tidak begitu produktif untuk menghasilkan karet berkualitas. Untuk itu diperlukan cara lain, yakni dengan melakukan okulasi. Okulasi pohon karet merupakan suatu rangkaian usaha memperoleh bahan tanam yang baik dan merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan sejak dari seleksi biji dan pengecambahan.

Untuk mendapatkan bibit okulasi ini, petani di Nias sudah bisa mendapatkannya di  Sumatera Utara, yakni di Balai Penelitian Sungai Putih (BPSP) Deli Serdang.

Jenis okulasi ada dua, yaitu okulasi hijau (green budding) dan okulasi coklat (brown budding). Okulasi hijau dilaksanakan pada bibit umur 5-6 bulan dan okulasi coklat umur 9-10 bulan. Pada okulasi hijau, lanjutnya,  entres (kayu) diperoleh dari cabang dengan 2 payung berumur 5-6 bulan dengan payung berwarna hijau tua segar. Sedangkan pada okulasi coklat, dilaksanakan pada bibit umur 9-10 bulan. Entres yang digunakan berumur 6-12 bulan dan berwarna coklat.

Untuk okulasi ini, bibit bawah harus perakarannya baik, tahan terhadap penyakit, memiliki daya gabung yang baik pula. Begitu pun dengan batang atas untuk sambungan bibit bawah, harus produktif tinggi, tahan terhadap hama dan memiliki daya gabung yang baik juga.

Perinciannya, lima kriteria yang harus dimiliki oleh klon unggul, baik dalam bentuk benih, kayu okulasi, yakni mempunyai pertumbuhan awal yang cepat sehingga mampu berkompetisi dengan gulma  dan tanaman lain, mampu beradaptasi dengan keadaan lahan, terutama padang alang-alang dan lahan gundul, mempunyai pertumbuhan batang besar, lurus dan mutu kayu baik, mampu memproduksi lateks yang tinggi, dan tidak sensitif terhadap penyadapan dan perubahan lingkungan fisik atau biologis.

Selain penentuan dan pemilihan bibit,  pemeliharaan, penulaman, dan penyiapan tanaman karet juga menjadi hal yang utama dan tak kalah pentingnya. Kalau ada tunas yang tumbuh, haruslah dipotong. Dan, setelah pohon mencapai ketinggian 3 meter, harus dilakukan pembentukan cabang.

Pengawasan lain yang perlu dilakukan, yakni melindungi tanaman dari hama penyakit, baik itu hama daun maupun hama batang dan pengendalian gulma (tanaman pengganggu).

“Jangan lupa diberi pupuk, pupuk urea bisa, pupuk MTK juga bias, segala jenis pupuk juga bias. Biasanya, pemupukan ini dilakukan 4 bulan atau 6 bulan sekali. Kalau tanaman ini di hutan, baiknya dilakukan pemagaran, agar tidak ada babi ataupun monyet yang dapat melakukan perusakan,” katanya.

Secara umum, dia juga mengatakan, potensi tanaman karet di kepulauan Nias bagus, hanya saja diperlukan manajemen yang baik untuk menggali potensi ini. “Dengan begitu, petani bisa menghasilkan 2 ton karet dalam sebulan atau penghasilan Rp 2 juta. Kalau sekarang yang saya lihat, petani hanya mampu menghasilkan Rp 800.000 per bulannya,” imbuhnya.

Mungkin itu hanya sebagian kecil saja, ilmu lainnya juga bisa diperoleh dengan kemampuan masyarakat dalam mempelajari Teknologi Informatika (TI) yakni dengan memanfaatkan Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK). Dengan catatan, keterlibatan pemerintah dalam memajukan pengetahuan masyarakat, harus didukung dengan baik.

Seperti yang dikatakan Kepala Bidang Pos dan Telekomunikasi (Postel) Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumatera Utara, Gelora Viva Sinulingga kepada NBC, pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan MPLIK ini. Kalau tidak, berarti tidak ada artinya.

Selain tinggal klik dalam menjelajah untuk mempermudah pencarian apa saja kebutuhan yang ingin diketahui, masyarakat melalui pemerintah di Kepulauan Nias dapat membuat website untuk mempromosikan potensi desa di Kepulauan Nias kepada dunia. Jika memang mahal dalaam membuat website ini, alternative lain yang harus dilakukan yakni membuat akun jejaring sosial seperti Facebook, Twitter atau jejaring sosial lainnya, tanpa biaya dan cukup mudah.

Dengan pelaksanaan ini, mungkin saja kemajuan Nias lebih berkembang dengan pesat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya khususnya dibidang pertanian. Atau mungkin, Nias menjadi barometernya pertanian di Indonesia.

Namun, apakah dengan membuat hal mudah dan tanpa memerlukan pengeluaran biaya ini pemerintah mau mengaminkannya atau tidak sama sekali, pertanyaan itu semuanya kembali kepada pemerintah, masyarakat hanya bisa menunggu jawaban dan kepedulian dari pemerintah saja.  [Khairudin Arafat]

Top