Faigiziduhu Bu’ulölö, Matematikawan Sukses Asal Nias

Faigiziduhu Bu'ulölö

NBC — Tak banyak yang tahu bahwa ono niha—sebutan untuk orang Nias—juga punya matematikawan hebat. Bahkan, sebuah perguruan di Medan kaget dan menyatakan, “ternyata ada juga ya orang Nias jago matematika”. Siapa dia dan apa saja kunci sukses tokoh NBC kali ini hingga bisa sampai pada titik pencapaian seperti sekarang?

Di ruang tamu sebuah hotel di Medan, di Jalan Sisingamangaraja, 20 November 2011, sosok yang low profile ini pun bersedia bertemu dengan NBC dan berbagi cerita seputar dirinya dan keluarganya. Dialah Faigiziduhu Bu’ulölö, yang di kalangan ono niha di Medan dikenal dengan nama Ama Beatrice. Pembicaraan dengan tokoh Nias ini berlangsung dalam suasana keakraban yang hangat, apalagi pertemuan ini merupakan kali kedua setelah bertemu di Jakarta sekitar tahun 2000.

Hampir seluruh usia produktif Ama Beatrice diabdikan di bidang pendidikan dan fokus di satu bidang, Matematika. Debut sebagai staf pengajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (F-MIPA USU) diawali pada 1980.

“Puji Tuhan. Karier saya di F-MIPA terus naik tahap demi tahap. Golongan saya sekarang 4C. Ini golongan paling top (teratas) untuk dosen yang non-doktor,” ujarnya sambil tertawa.

Peran Orangtua

Sukses putra keempat dari tujuh bersaudara ini tidak terlepas dari didikan dan teladan yang diberikan kedua orangtuanya. Almarhum ayahnya, Kamaruddin Bu’ulölö, dan almarhum ibunya, Tönulö’ö Halawa, mendidik mereka dengan sangat disiplin sehingga selama studi dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi nyaris tanpa halangan berarti.

Orangtuanya begitu perhatian terhadap pendidikan mereka bertujuh. Tidak mengherankan bila ketujuh-tujuhnya juga semua sukses.

Teladan cinta damai juga menjadi warisan orangtua yang membuat suami dr. Kanserina Dachi ini hingga kini dikenal sebagai penyejuk suasana di saat ada pihak-pihak yang berkonflik.  “Dulu ketika di kampung terjadi konflik, orangtua kami selalu menjadi tokoh yang dicari untuk mendamaikan pihak yang bertikai. Tidak itu saja. Ayah saya bahkan sering berkorban dengan membiayai proses perdamain.”

Kedisiplinan yang ia terima dari orangtuanya, Faigiziduhu Bu’ulölö juga dia praktikkan kepada anak-anaknya. Hasilnya, anak pertamanya, Beatrice A. Bu’ulölö kini menyandang gelar dokter dan mengabdi di Pulau Nias. Anak keduanya, Roland Lukas  Bu’ulölö, kini sedang kuliah S-2 bidang teknik di Institut Teknologi Bandung.

Kecintaan keluarga ini di bidang pendidikan memang tak pernah berhenti. Sekeluarga selalu melihat bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki orang lain tidak akan bisa kita miliki selain dicari sendiri. “Kita harus cari sendiri dan belajar, belajar, dan belajar. Saya sedang ambil program S-3 untuk meraih gelar doktor. Mudah-mudahan saya bisa menyelesaikannya,” ujar Faigiziduhu Bu’ulölö.

Istri Faigiziduhu Bu’ulölö, dr. Kanserina Dachi kini sedang tugas di RSU Gunungsitoli. Masa tugas sebagai satu-satunya dokter spesial penyakit dalam di Nias akan segera berakhir pada 2012. “Saya dengar ada beberapa orang Nias yang akan tamat dokter spesialis dari UGM yang studinya didukung oleh pemerintah daerah dan akan menggantikan posisi istri saya nantinya di RSU Nias.

Apa Kunci Suksesnya?

Faigiziduhu mengakui bahwa keberhasilan dan kunci suksenya sejauh ini adalah, pertama, disiplin. Disiplin dalam setiap tingkah laku, disiplin dalam kehidupan sehari-hari telah membentuk dirinya sehingga apa yang menjadi ganjarannya kini ia nikmati.

“Kemudian bahwa saya tidak pernah langsung puas terhadap ilmu yang sudah diperoleh. Saya terus berusaha agar ilmu yang dimiliki orang lain bisa juga saya miliki.”

Hal lain adalah bahwa dia selalu menghargai orang yang lebih daripada dirinya. Ia ingin melepaskan diri dari sifat-sifat negatif yang  jamak terlihat dalam diri orang Nias, yakni kecemburuan tinggi.

“Orang kita Nias, maaf saja, kecemburuannnya tinggi. Tak banyak yang mau mengakui kelebihan seseorang. Malah kalau bisa dicari cara untuk menghambat agar kita tidak bisa mencapai seperti yang kita harapkan tadi. Inilah salah satu hal yang perlu dikikis dari setiap diri orang Nias. Untung saja saya di bidang pendidikan. Dan, hal itu mendorong saya tidak terlalu suka berorganisasi. Pernah punya pengalaman di organisasi Ikatan Sarjana Nias (Isni). Dan, ada konflik saat itu. Saya memilih mundur. Itu tadi, kita orang Nias masih harus belajar untuk menghargai dan mengakui kelebihan orang lain,” ujarnya.

Faktor yang lain, yang membuat Faigiziduhu seperti sekarang ini, adalah ketekunan dalam iman. “Saya akui bahwa apa yang kami miliki ini sesungguhnya bukan milik kami. Itu semua adalah milik Tuhan. Meskupun begitu, kami terus berusaha menjaga dan mengabdikannya untuk juga dibagikan kepada orang lain.”

Mengapa Matematika?

Awalnya Faigiziduhu tidak pernah bercita-cita menjadi matematikawan. “Sebenarnya dari awal itu, saya kan dari SMA. Saya tidak tahu ke mana. Saya bahkan masuk Akademik Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) agar bisa menjadi camat. Namun itu gagal.”

Beberapa orang mengusulkan dia juga untuk masuk Fakultas Hukum bahkan ke bidang farmasi. “Saya tidak ambil hukum karena ada contoh, baru tamat sarjana hukum 13 tahun. Demikian juga dengan farmasi yang ternyata latar belakangnya harus Biologi atau Kimia.”

Akhirnya atas pertimbangan yang diberikan oleh abangnya yang lebih dulu sudah kuliah di F-MIPA USU ia menggeluti Matematika sejak 1972 hingga sekarang. “Memang benar-benar waktu itu sama sekali tidak ada informasi yang memadai bagi kami yang hendak melanjutkan ke perguruan tinggi. Bahkan, hal seperti itu masih dialami oleh adik-adik SMA sederajat di Pulau Nias. Sebaiknya ini harus sudah ditemukan solusinya sehingga para calon mahasiswa bisa menentukan pilihan jurusan apa yang hendak dipilih.”

Terkait hal ini, Faigiziduhu Bu’ulölö bahkan pernah meminta pemerintahan  daerah untuk bekerja sama dengan berbagai universitas di Medan, seperti USU, sehingga para putra daerah yang hendak kuliah diarahkan dan disesuaikan dengan kebutuhan sumber daya manusia yang dibutuhkan di Pulau Nias.

Hingga kini, Faigiziduhu Bu’ulölö terus bergelut dengan Matematika. Beberapa buku kumpulan soal-soal Matematika telah diterbitkannya. Buku-buku itu diakuinya telah banyak membantu anak-anak Nias untuk bisa menembus USU. “Saat datang ke SMA Sukma saya kasih ceramah dan saya kasih buku saya. Saat itu saya berikan ceramah bahwa kalau masuk di USU itu inilah background yang harus kamu persiapkan dan apa saja fakultas-fakultasnya, dan arahnya mana,” ujarnya.

Ia mengakui, setelah guru-guru di SMA Sukma membaca bukunya, anak-anak tahun kedua SMA itu ada yang masuk USU dan ketika ketemu Faigiziduhu memberi kesaksian bahwa mereka sangat terbantu dengan ceramah dan buku yang ia tulis. “Tempo hari seorang alumni SMA Sukma yang sedang meneruskan S-2 jurusan Kimia menyatakan bahwa dia sangat terbantu. Saya bilang, syukurlah bila bisa bermanfaat.”

Belajar Matematika, bagi Faigiziduhu, adalah bagaimana bernalar. Untuk menguasai Matematika haruslah terus latihan, tetapi yang utama harus lebih dulu mencintai Matematika. “Tidak cukup hanya dengan silabus itu, tetapi pengalaman Anda mengaplikasi apa itu x apa itu y dalam kehidupan sehari-hari dan itulah modal seorang anak mempelajari Matematika sehingga tidak menjadi momok yang menakutkan,” ujarnya.

Kini Faigiziduhu sedang mempersiapkan masa-masa menuju purnatugas yang tersisa beberapa tahun lagi.  “Jika pensiun pada umur  65 tahun, pertama bersyukur kepada Tuhan. Tinggal di Medan atau di Bandung, bersama istri, anak dan cucu. Tentu banyak waktu semakin dekat dengan Tuhan untuk memberikan motivasi kepada jemaat Tuhan di BNKP.”

Selain itu, tambah Faigiziduhu, ada kerinduan mengajari anak-anak telantar, terutama anak-anak Nias yang kurang mampu dan tidak memahami belajar Matematika dengan benar. “Banyak anak-anak yang tidak memahami bahwa Matematika itu bukan sulit dipelajari karena tidak semua guru mampu memotivasi anak agar belajar Matematika itu merupakan salah satu alat komunikasi untuk digunakan pada bidang ilmu lain. Terjemahan Matematika itu sulit dicerna anak jika tidak didekatkan dengan kegunaan sehari-hari,” ujarnya. [SOTAFI LI]


BIODATA SINGKAT

  • Faigiziduhu Bu'ulolo

    Nama Lengkap: Drs. Faigiziduhu Bu’ulölö, M.Si

  • Tempat, Tanggal Lahir: Nias, 18 Desember 1953
  • Pekerjaan: Lektor Kepala F-MIPA USU
  • Alamat Rumah: Jl. Pales VII-A No.17 Simpang Selayang Medan Tlp.  061- 8362266 / 08126062260. E-mail: waigi.buulolo@gmail.com
  • Istri: Dr. Kanserina E. Dachi, Sp.PD
  • Anak:

1. Dr. Beatrice A. Bu’ulolo

2. Roland Lukas Bu’ulolo, ST

  • Judul Buku:

1. Stability in two-stage stochastik Integer Programming (Pernerbit: Porsiding, 2005)

2. Kalkulus (USU Pers, 2009)

3. Matematika Keuangan (USU Pers, 2010)

7 Comments

  1. Towi-towi said:

    Pak Bu’ulolo juga peduli kepada mahasiswa Nias di USU…
    Beliau memang low profile banget.

  2. florus said:

    Pak Bu’ulolo… Selamat ya. Saya salut dengan perjuangan dan konsistensi Pak Bu’ulolo di bidang Matematika. Semoga bisa menjadi teladan bagi kaum muda.

    Saya pernah menjadi mahasiswa bapak di UNIKA St. Thomas tahun 1986.

    Selamat menyambut Natal dan Tahun Baru 2012

    Salam

    Florus Daeli, SE, Ak, MM, CPA
    Kreston International, Jakarta
    Kantor Akuntan Publik

  3. Sr.Blandina said:

    Proficiat ya pak. Saya pernah sebagai mahasiswi Bapak di Unika Santo Thomas Fakultas Ekonomi Stambuk 1987.
    Saya kenal beliau jago Matematika dan saya bangga….

    Tuhan berkati Bapak dan keluarga serta segala karya usaha.

Top