Ponti Gea: Peserta Audisi ”Kesulitan” Berbahasa Nias

Rata-rata peserta audisi film Nias, Sabtu (6/8/2011), kesulitan dalam menggunakan bahasa Nias.

GUNUNGSITOLI, NBC Kebanyakan dari peserta audisi bintang film daerah Nias, yang diadakan CZ Entertainment, kendala utamanya adalah pada pemakaian bahasa Nias. Peserta, terutama yang berasal dari Kota Gunungsitoli, rata-rata kesulitan menggunakan bahasa Nias yang baik dan benar. Hal itu disampaikan Ponti Gea, sutradara film yang segera dibuat di Nias, saat berbincang-bincang dengan NBC di sela-sela pelaksanaan audisi, Sabtu (6/8/2011).

“Kebanyakan peserta tidak bisa mengucapkan bahasa Nias dengan lancar. Kemungkinan hal ini karena para peserta itu sebagian lahir dan besar di Gunungsitoli—yang bahasanya sudah bercampur. Kosa kata Nias banyak yang sudah tidak bisa diucapkan dengan tepat,” kata Ponti. Ponti juga berharap, agar kondisi ini semoga bukan gambaran dari keberadaan bahasa Nias yang sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat penurutnya sendiri.

Meskipun begitu, Poinus mengaku terkesan dengan acting para peserta. “Ternyata, bila digali, bakat seni peran di Pulau Nias ini begitu banyak. Para juri pun tidak menyangka bila kemampuan para peserta ini bagus-bagus,” ujarnya.

Menyiasati kendala dalam berbahasa Nias itu, Ponti akan tetap mempertahankan peserta itu pada adegan tertentu saja, di mana penggunaan bahasa Nias tidak terlalu dibutuhkan.

Audisi yang dilaksanakan di Aula Samaeri, Lantai II Kantor Wali Kota Gunungsitoli, Jalan Pancasila, Desa Mudik, Gunungsitoli, Sabtu (6/8/2011), itu diikuti oleh 120 peserta. Ada 16 peserta yang lolos dipilih untuk bermain di film Nias berjudul Samadöbi Tanö dan Böŵö Sebua dan akan segera mengikuti proses pengambilan gambar (shooting).

Mayoritas Kaum Muda

Hal lain, dikatakan Ponti, target untuk mendapatkan peserta dengan usia menengah ke atas (umur 56) tidak tercapai. Sebab, kata Ponti, yang berdatangan saat audisi ternyata anak-anak muda. Bahkan, pemantauan NBC, di antara peserta ada yang masih berusia remaja.

Padahal, kata Ponti, ia mengharapkan ada juga peserta yang berusia 40 tahun ke atas. “Saya terpaksa harus melakukan pencarian lagi, mungkin dengan sistem mendatangi langsung dari rumah ke rumah agar target atau kebutuhan skenario film ini terpenuhi,” kata Ponti.

Pada audisi Sabtu, peserta usia 16-30 tahun sudah terpenuhi. Ponti mengatakan, nama-nama keenam belas yang dipilih juri telah ia tangani. Adapun pengumuman hasil audisi sudah dilakukan pada Minggu (7/8/2011).

Beberapa hal yang menjadi faktor lolosnya seorang peserta audisi, disebutkan Ponti, antara lain, adalah gerak mata atau cara peserta melihat kamera; cara berbahasa Nias yang bagus; gerakan tubuh saat berperan. “Juri akan memutar ulang semua hasil audisi.  Hasil visual dari kamera yang diambil saat casting juga menjadi pertimbangan juri,” ujarnya.

Menurut rencana, pengumuman hasil seleksi akan diserahkan oleh Wali Kota Gunungsitoli dan Kepala Kepolisian Resor Nias. “Wali Kota Gunungsitoli dan Kapolres Nias akan menyerahkan piagam kepada seluruh peserta casting. Dan, pada saat itu juga, kami mengumumkan siapa yang pantas untuk melakoni film Samadöbi Tanö dan Böŵö Sebua,” tambahnya.

Setelah itu, kata Ponti, ke-16 peserta yang lolos audisi akan dibawa ke Bascamp Traiford untuk penempatan peran yang cocok. “Saya akan langsung menyeleksi ke-16 peserta sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan dalam skenario,” kata Ponti. Rencananya, setelah diseleksi, maka kegiatan shooting akan dimulai minggu ini. Ponti tidak menyebutkan lokasi shooting film yang dibuatnya. “Tempat shooting sengaja kami rahasiakan agar para kru dan pemain nyaman,” ujar Ponti.

Biaya Sendiri

Ditanya soal dana pembuatan film ini, Ponti Gea menyebutkan bahwa biayanya berasal dari kantongnya sendiri. Meskipun ia mengharapkan bila ada orang Nias yang cukup berhasil, baik di Medan maupun di Jakarta, yang ingin mendukung dia dalam pendanaan, ia sambut baik. “Wali Kota Gunungsitoli hanya membantu sebatas penyediaan fasilitas tempat untuk melakukan casting pemilihan calon bintang film Nias,” ujar Ponti.

Untuk pembuatan dua film Nias ini, dikatakan Ponti, diperlukan dana sebesar Rp 250 juta, untuk dua episode.

Ditanya soal materi atau skenario film ini, Ponti mengaku melibatkan para penetua adat serta berkonsultasi dengan mereka agar apa yang akan disampaikan lewat film itu tidak bertentangan ataupun menyalahi adat yang berlaku di Nias.

Adapun narasumber yang dipakai sehubungan dengan adat Nias adalah tokoh adat dari Desa Onoŵaembo Idanoi, Kabupaten Nias. “Untuk sementara, kami akan memakai adat di Desa Onoŵaembo Idanoi dengan melibatkan lima penetua adat guna membantu dan memberi masukan pada pembuatan film,” ujar Ponti. [IH]

One Comment;

  1. Surya said:

    Berharap film ini nanti benar-benar dibuat profesional. Selain bahasa Nias pemakaiannya harus benar dan baik, juga semoga sang sutradara bisa mengeksplorasi keindahan-keindahan tempat di Nias. Hal ini sekaligus menjadi iklan yang sangat baik kepada semua penonton film itu agar bisa berkunjung di Nias.

    Sukses untuk Poinus Gea.

    Surya Ge’e

Top