Arti Kata “Ere”

Oleh Victor Zebua

Tatkala melakukan penelitian antropologi di Nias, Edward Peake dari University of London mendapat title (gelar) ere zihönö. Apa maksud kata ere dalam ere zihönö (ere ribuan) itu? Apakah Peake imam sehingga dia bisa disebut ‘pemimpin keagamaan ribuan umat’? Atau, apakah dia seorang ilmuwan yang merangkap dukun?

Dalam Kamus Li Niha karya Apolonius Lase (2011:100) terdapat dua arti ere [gere], yaitu: orang pintar dan pemuka masyarakat. Lase menjelaskan, “dulu ere dipercaya sebagai orang yang bisa mengusir roh-roh jahat dari tubuh orang sakit dengan melakukan sesembahan. Sebelum agama Kristen masuk di Nias, masyarakat yang menganut kepercayaan animisme dipimpin oleh ere.”

Arti  ere dalam kamus susunan Sitasi Z. Laiya, dkk. (1985:88) ada dua, yaitu: iman dalam agama kuno Nias dan dukun. Kiranya, terdapat lapsus calami (salah tulis) ‘iman’. Yang dimaksud tentu ‘imam’, sehingga seyogianya tertulis ‘imam dalam agama kuno Nias’. Sementara kamus susunan B. Ama Wohada Mendröfa (1982:33) juga mengartikan ere sebagai imam.

Tiga kamus Nias-Indonesia tersebut merujuk imam atau dukun untuk mengartikan kata ere. Selain itu, menurut Faogöli Harefa (1939:94), arti ere hanya satu. Dia menulis, “Apabila seorang radja (Salawa atau Baloegoe) sakit, disoeroehnja anaknja mentjahari Éré akan mengobatinja. Éré artinja Doekoen jang dapat memanggil dan menjoeroeh pergi setan dengan memoekoel fondrahi jaitoe: sematjam taboeh ketjil.”

Ere dalam arti ‘pemimpin keagamaan’ menduduki posisi strategis. Sebagai imam religi wanömba adu (pemujaan patung), tentu dia adalah orang pintar, dan boleh jadi juga ‘orang pintar’ (dukun), dalam masyarakatnya. Dengan kapasitas seperti itu, pantas bila ere menjadi tokoh masyarakat.

Namun, Peake bukan imam atau dukun. Gelarnya pun tidak merujuk pada imam atau dukun. Menurut Peake (2000:161), ere zihönö berarti expert of the thousands/the people (ahli ribuan orang), ungkapan bagi istilah anthropologist (ahli antropologi). Di sini ere berarti ‘ahli’. Ini menunjukkan, arti ere dalam gelar Peake tidak sesuai dengan definisi ere versi kamus maupun versi Harefa.

Penyempitan Arti

Menurut W.J.S. Poerwadarminta (1982:19), ahli adalah orang yang mahir (paham sekali) dalam sesuatu ilmu (pengetahuan, kepandaian). Ere dalam arti ‘ahli’ tidak tertera dalam kamus, namun terekam di sejumlah karya tulis.

W.L. Steinhart (1937:167) menemukan syair hoho, Môi ja chô gēre dzamōbôdzi, Môi ja chô gēre dzamāgo [sic.]. Steinhart menerjemahkan ere zamobözi dan ere zamago ke dalam bahasa Belanda, smid (penempa). Menurutnya, contoh penempa lainnya adalah: ere zambu (goudsmid) ‘pandai emas’ dan ere zambu bowoa (een vrouw die de kunst van pottenbakken verstaat) ‘seorang perempuan yang memahami seni membuat gerabah’.

Penutur hoho disebut ere hoho. Istilah ini berasal dari bahasa Nias varietas selatan, sedang di kawasan utara disebut ere wanunö (Schröder, 1917:609). Menurut Henk Maier (1990:138), Steinhart menerjemahkan ere hoho sebagai the singer (penyanyi). Sementara Maier sendiri memakai istilah storyteller (pencerita). Menurut Hummel & Telaumbana (2007:26), ere hoho adalah an expert in telling stories or genealogis or myths in a very poetic way. Sedang menurut Victor Zebua (2010:14), ere hoho adalah ‘ahli menyanyikan syair hoho’. Dapat disimpulkan, ere hoho atau ere wanunö (ere laria) adalah seorang ahli, yaitu ahli dalam mendendangkan syair hoho yang berisi pelbagai cerita.

Arti ere sebagai ‘ahli’ diutarakan beberapa penulis atau peneliti. Menurut Sökhiaro Welther Mendröfa (1981: 85), ere adalah ahli. Dijelaskannya, ere ini bermacam-macam menurut keahliannya. Selain ere nadu (ahli memimpin upacara berkaitan dengan patung) dan ere hoho, ada pula, misalnya, ere huhuo (ahli orasi) dan ere maena (ahli memimpin tarian tradisional maena) (Hummel & Telaumbanua, 2007:26). Baik ere hoho maupun dua jenis ere yang disebut terakhir tentulah bukan imam atau dukun.

Menurut Andrew Beatty (1992:313), ere adalah priest (imam) atau specialist (ahli). Peake (2000:68) menerjemahkan ere sebagai expert (ahli). Dan, Hummel & Telaumbanua (2007:26) mengemukakan arti harfiah ere, yaitu expert or skillful person (orang yang ahli atau mahir, cekatan, cakap).

Namun, arti kata ere ternyata menyempit. Penyempitan arti kata adalah proses yang dialami sebuah kata di mana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru (Keraf, 1986:97). Proses penyempitan arti ere dipelopori oleh para misionaris yang memadankan kata ere dengan priester (imam). Mereka memilih kata pertama dari istilah yang merujuk pada imam religi wanömba adu, seperti: ere nadu, ere sameadu, ere be’elö, ere wakhe, dan ere börönadu. Atau, istilah yang merujuk pada praktik penyembuhan tradisional (perdukunan), antara lain: ere same’e dalu-dalu ba mbanua, ere salomö, ere samatumbu’ö iraono, ere sangeheta, dan ere samae’le’ö.

Birokrat pemerintah kolonial Belanda, E.E.W.Gs. Schröder (1917:608), merekam ‘istilah imam’ yang masih dijumpai hingga awal abad ke-20, misalnya: sinurà niha, sinura m’besò, dan lewelewe [sic.]. Namun H. Sundermann, misionaris asal Jerman, rupanya lebih tertarik pada kata ere (bukan kata-majemuknya), dan menerjemahkannya sebagai priester dalam Niassisch-Deutsches Wörterbuch (1905), kamus Nias-Jerman (Hummel & Telaumbanua, 2007:26). Arti ere versi Sundermann inilah yang dominan dikenal banyak orang.

Superordinat

Dalam ilmu semantik (studi makna kata), kata umum yang mencakup sejumlah istilah khusus disebut superordinat, sedang sejumlah istilah khusus yang dicakupnya disebut hiponim (Keraf, 1986:90). Ilmu biologi menggunakan istilah genus dan species, ilmu sosial menamakannya kelas dan subkelas, sedang logika dan tatabahasa menyebutnya kategori dan subkategori. Semuanya mengacu pada hal yang sama yaitu tingkat atas dan tingkat bawah.

Kata bunga, misalnya, adalah sebuah superordinat yang membawahi sejumlah hiponim, antara lain: bunga mawar, bunga melati, bunga sedap malam, bunga flamboyan, dan bunga gladiol (Keraf, 1986:38). Demikian pula ere. Dalam arti ‘ahli’ kata ini merupakan superordinat. Dia membawahi sejumlah hiponim, antara lain: ere zambu, ere zambu bowoa, ere hoho, ere huhuo, ere maena, ere nadu, ere salomö, ere samatumbu’ö iraono, dan ere samae’le’ö. Dengan demikian, ‘imam’ atau ‘dukun’ termasuk arti ere pada tingkat bawah (hiponim).

Kata ere seyogianya direkonstruksi ke tingkat atas, pada arti semula, yaitu ‘ahli’. Mengartikan ere hanya pada tataran hiponim (imam agama kuno atau dukun) akan membuat kata ini terancam punah, karena dia semakin jarang digunakan, seiring dengan lenyapnya imam religi wanömba adu dan relatif merosotnya status sosial dukun di tengah masyarakat Nias.Rasanya, para imam agama modern tidak ingin disebut ere (yang sebagai hiponim berarti imam agama kuno atau dukun). Namun seseorang, seperti Edward Peake, bahkan bangga disebut ere, karena ere di sini berarti ‘ahli’. Sebagai superordinat, kata ere yang berarti ‘ahli’ niscaya selalu aktual digunakan. Orang yang mahir menerapkan sesuatu ilmu (pengetahuan, kepandaian) tentu suka bila disebut ere. Dengan demikian, dalam khazanah li Niha (bahasa Nias) kata ere akan terjamin awet sepanjang segala abad. [VICTOR ZEBUA]

One Comment;

Top