Eksotisme Pulau Makora di Kabupaten Nias Utara

NBC— Selain terkenal dengan tradisi lompat batu dan tempat favorit penggemar olahraga surfing, kepulauan Nias juga memiliki panorama alam yang begitu memesona, seperti Pulau Makora, Kabupaten Nias Utara.

Dari namanya, mungkin masih sedikit orang yang tahu keberadaan pulau yang terletak di sebelah timur pantai Lahewa ini. Pulau Makora merupakan salah satu dari 19 pulau yang terdapat di wilayah administratif pemerintahan Kabupaten Nias Utara. Tidak sulit menjelajahi pulau kecil ini karena hanya memiliki luas sekitar 5 kilometer persegi.

Untuk mencapai Pulau Makora dibutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan darat dari Kota Gunungsitoli menuju pelabuhan laut di Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara. Sesampainya di pelabuhan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu cepat (speedboat) sewaan yang memuat sekitar 50 penumpang. Harga sewa speedboat berkisar Rp  300.000 hingga Rp 400.000 (pergi-pulang), tergantung pada jumlah penumpang dan negosiasi dengan nahkoda perahu.

Bila berniat berkunjung ke Pulau Makora sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari bersinar terik. Namun, bila terpaksa melakukan perjalanan pada siang hari, disarankan untuk melindungi kulit dari sengatan matahari yang dapat membuat kulit menjadi kemerahan, terutama di bagian wajah.

Perjalanan laut menuju pulau tanpa penghuni ini memakan waktu sekitar 1 jam. Selain dengan perahu cepat, beberapa perahu yang memuat 2 hingga 3 orang juga disewakan dengan tarif yang lebih murah.

Selama perjalanan menuju Pulau Makora, dari atas perahu yang dipacu dengan kecepatan 40 knot per jam terlihat beberapa gugusan pulau kecil dan perahu nelayan yang lalu lalang. Uniknya, perahu nelayan itu menggunakan layar, seperti kapal layar negara Inggris zaman dulu.

Dermaga Pelabuhan Lahewa. (Foto: Anoverlis Hulu)

Seorang anak yang ikut dalam perahu cepat dengan telaten menyebutkan nama beberapa pulau yang terlihat, seperti “Pulau Lipan, Pulau Gita, dan Pulau Lafau,” kata anak bernama Wahnan Tanjung (14), yang membantu nakhoda mengantar para pengunjung ke Pulau Makora.

“Pengunjung yang datang ke sana (Pulau Makora, Red) rata-rata sekali seminggu, biasanya dari Gunungsitoli, tetapi pernah juga turis asing,” tutur Ama Yaman (49), nakhoda perahu cepat. Dari penuturan Ama Yaman, yang telah 5 tahun menjadi nahkoda perahu cepat itu, selain dikunjungi warga dari luar daerah, Pulau Makora juga sering didatangi warga untuk mengambil hasil alam, seperti buah kelapa dan karet.

Ketika NBC menanyakan asal nama Pulau Makora kepada Wahnan, dengan enteng dirinya berujar, “Enggak tahu juga kenapa dikasih nama Makora. Emang dari dulu-dulunya juga begitu,” ujarnya, membuat penumpang speedboat tersenyum kecil melihat gaya cuek siswa salah satu SMP di Lahewa itu. Jawaban serupa juga dilontarkan Ama Yaman, “Sudah dari sananya.”

Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya speedboot merapat di Pulau Makora. Perasaan nyaman seketika menyelimuti NBC ketika merasakan keheningan di sekitar pulau itu. Dari atas speedboat terlihat kerumunan ikan kecil seukuran telapak tangan orang dewasa berenang di kedalaman laut sekitar 10 meter. Air lautnya begitu bening. Sungguh pemandangan yang menenangkan jiwa.

Tak hanya lautnya yang jernih, pasir di sepanjang pantai terlihat bersih dengan warna keputihan, memantulkan sinar matahari. Dibanding beberapa pantai di Kota Gunungsitoli, di pantai Pulau Makora tidak sedikit pun terlihat sampah nonorganik di sepanjang tepian pantai. Mungkin karena pulau ini belum banyak dikunjungi orang. Selain itu, pohon-pohon bakau yang tumbuh di tepi pantai ini dalam keadaan baik.

Selain NBC,  terlihat beberapa nelayan sedang beristirahat sambil bercengkerama.  Seorang nelayan bernama Ama Putra Telaumbanua (39), kepada NBC, mengatakan, selama ini dirinya bersama nelayan lain menjadikan Pulau Makora sebagai tempat peristirahatan, sebelum kembali ke Kota Gunungsitoli.

 

 

 

 

 

 

 

 

Potensi Alam

Bila dikelola dengan baik, Pulau Makora akan menjadi daerah tujuan wisata. (Foto: Anoverlis Hulu)

Beberapa potensi alam di Pulau Makora bila dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Seperti pengelolaan hasil alam buah kelapa dan karet. Selain itu, batu apung, kulit kerang, dan rumah siput yang terdapat di sepanjang pantai dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan suvenir yang bernilai ekonomi berharga puluhan hingga ratusan ribu.

Terlepas dari potensi yang ada, secara keseluruhan Pulau Makora menyajikan pemandangan alam yang luar biasa. Air laut yang jernih, pasir bersih dan putih, membuat siapa pun yang berkunjung akan betah berlama-lama di pulau ini.

Akhirnya, setelah puas menikmati keindahan Pulau Makora, dan waktu sudah menjelang sore, NBC pun bersiap untuk kembali. Sebelum beranjak meninggalkan pulau, NBC kembali disuguhi pemandangan matahari tenggelam (sunset) yang memantul di atas permukaan laut.

Untuk Anda yang memiliki jiwa bertualang, Pulau Makora layak dicatat sebagai tempat yang patut dikunjungi. Banyak alasan untuk menjadikan pulau ini sebagai kawasan wisata seperti pulau-pulau lain di Kepulauan Nias yang sudah terlebih dahulu dikenal. Ada dua alternatif untuk mewujudkan Pulau Makora sebagai destinasi wisata; inisiatif pemerintah daerah setempat atau dengan mendatangkan investor. Selamat menikmati keindahan Pulau Makora! [ANOVERLIS HULU]

Related posts

One Comment;

Top