Visi dan Misi Edison-Ingati di Nias Utara

NIAS-BANGKIT — Nias Utara yang maju dan sejahtera adalah harga mati dalam visi Edison-Ingati. Tekad ”garuda di dada”, yang menggerak masyarakat menjadi produktif sekaligus mengubah lingkungan pemerintahan menjadi kondusif.

Spirit pembangunan Nias Utara yang dilakukan Edison Hulu-Ingati Nazara mirip tecermin sebagaimana garuda. Posturnya melambangkan kekuatan, warna keemasannya terukir kejayaan.

Gagah dan lihai di udara mencerminkan diri garuda dinamis, energik, berani, tajam, tersimpan strategi. Itulah burung yang menyerupai rajawali dalam mitologi kuno. Ia terbang menguasai angkasanya; berani mempertahankan wilayahnya.  Burung garuda, tidak takluk pada situasi apa pun yang mengancam dirinya. Wajar, kalau founding fathers and mothers bangsa ini mengkonkretkan nilai-nilai fondasi negara ini dalam lambang burung garuda yang kokoh itu.

Edison Hulu dan M. Ingati Nazara—biasa disingkat ”Edisi”—jauh-jauh hari bertekad membangun Nias Utara dengan meletakkan tiang pembangunan yang tangguh, setangguh falsafah lambang garuda.

Edison Hulu terpanggil terjun langsung ke daerah setelah puluhan tahun berkiprah di panggung nasional di lembaga strategis yang menjadi incaran para ekonom karena sadar arti pentingnya meletak dasar itu di kampung halaman yang baru dimekarkan ini.

Memajukan Pertanian

Untuk mewujudkannya, sejak awal Edison-Ingati tidak akan mengumbar visi-misi yang berbunga-bunga dan bombastis. Kunci visi-misi mereka tak lain sebuah konsesus yang menyentuh langsung masyarakat. Kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Nias Utara yang menjadi sasaran utama pemerintahan kelak, juga berangkat dari hal-hal yang telah dikenal secara mudah oleh masyarakat.

Untuk menggerakkan sektor ekonomi masyarakat, misalnya, banyak tanaman yang sederhana ditanam, tetapi hasilnya tidak luar biasa. Singkong, satu di antara komoditas yang menjadi konsentrasi “Edisi”. Selain menghasilkan tepung tapioka, bio-etanol, dan kosmetika, santan singkong juga bisa diolah menjadi pasta gigi. Di Nias Utara, dengan lahan yang luas, potensi ini harus segera kita jemput. “Di Indonesia, teknologi pengolahan pasta gigi baru dilakukan di Jawa Timur,” kata Edison Hulu.

Singkong, tanaman yang amat sederhana itu, bisa beranak-pinak menjadi “tambang emas” selanjutnya.  Ampas singkong, makanan bergizi babi, boleh disebut tambang yang dimaksud.

Edison melihat, keluarga di Nias Utara kebanyakan memelihara satu-dua ekor babi saja. Ini kurang produktif. Jadi, kata Edison, menjadikan babi sebagai tambang penghasilan: tiap 10 keluarga di 120 desa Nias Utara beternak 10 ekor babi, yang dibina menjadi proyek percontohan (pilot project). Dengan asumsi keuntungan per ekor Rp 1 juta, berarti dalam satu tahun, satu keluarga bisa menghasilkan Rp 10 juta.

“Bayangkan, kalau 10 keluarga dengan 10 ekor babi dari 120 desa yang kita anggap sukses itu, katakanlah 100 desa saja, maka kita bisa menghasilkan Rp 10 miliar per tahun,” kata Edison Hulu.

Edison menggambarkan puluhan ribu hektar tanah Nias dibiarkan seperti tertidur. Padahal, di balik hamparan tanah itu tersimpan banyak potensi ekonomi kalau digarap serius. Prinsip pertama, “Tidak ada satu jengkal tanah pun yang tidak dimanfaatkan di Nias Utara,” ujarnya.

Kacang tanah juga tidak sukar tumbuh di hamparan tanah Nias Utara. Kacang yang kelak ditanam bukanlah sembarang kacang karena tidak menggunakan pupuk, alias kacang organik. Harganya bisa selangit. Pasarnya, “Kita kerja sama dengan Kacang Garuda,” ujar Edison, mantap.

Modernisasi Usaha Rakyat

Sebenarnya, menurut Edison Hulu, menggerakkan sektor ekonomi masyarakat sekarang ini tinggal disentuh dengan program Modernisasi Usaha Rakyat. Bahan bakunya sudah ada sebagaimana yang menjadi mata pencarian pokok masyarakat. Sawah, karet, coklat, kelapa, perikanan, dan sebagainya.

Yang menjadi titik tekan Edison-Ingati justru proses produksi dengan sentuhan teknologi, dan jaringan distribusinya (pasar); dua hal yang menjadi kendala selama ini.

Dengan teknologi pengolahan, harganya bisa dua kali lipat. Karet, misalnya, untuk memproduksi ban minimal diolah setengah jadi. Begitu juga kopra. Banyak hal yang menarik dari komoditas kelapa ini untuk diolah setengah jadi. Tapi yang menarik perhatian terdekat Edison Hulu adalah ujung tempurung (batok) kelapa yang umumnya berwarna hitam itu. Tak banyak yang tahu, ujar Edison, “Ujung tempurung kelapa itu adalah bahan baku untuk memproduksi karbon atau tinta printer.”

Sadar bahwa sawah adalah sumber pangan, padi organik juga tak luput dari perhatian “Edisi”. Karena tanpa pupuk, hasilnya juga berlipat. Biaya pupuk yang selama ini petani kuras, kelak bisa disimpan.

Edison Hulu memprediksi, 20 tahun ke depan dunia ini akan menghadapi krisis pangan. “Itu tidak bisa dimungkiri. Di Indonesia sekarang sedang diupayakan di mana ada desa ada sawah.”

Soal modal, lanjutnya, ini bisa ditempuh melalui sejumlah saluran permodalan yang sudah dicanangkan pemerintah pusat. Seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan lain sebagainya. Itu kalau jeli melihat. Toh, di Nias Utara sekarang sudah ada BRI. Ke depan, “Edisi” menambahnya dengan Bank Pemerintah Daerah (BPK).

Soal pasar, urusan satu ini juga sudah “Edisi” siapkan sejak pagi. Edison Hulu yang berpengalaman kuat di bidang ekonomi dan keuangan, punya jaringan bisnis yang luas, paham betul akan seluk-beluk jaringan pasar tersebut.

Pembeli bahan baku singkong untuk pasta gigi sudah ada karena memang permintaan dunia belum bisa dipenuhi. Pembeli, termasuk investor yang bersedia berinvestasi untuk komoditas karet, padi organik, tempurung kelapa untuk karbon dan tinta pencetak, juga sudah ada.

“Jadi, untuk pasarnya tidak menjadi masalah. Karena kita di Bursa Efek Indonesia membawahi sekitar 500 perusahaan berkelas,” papar Edison, yang pernah bekerja sebagai Research Associate in Development Project II, USAID-National Plan Agency of Indonesia (1991-1992) dan Research Associate in Natural Resources Management Project, USAID, Jakarta (1992-1993).

Meskipun demikian, identitas pembeli dan investor yang masuk dalam daftar Edison belum ia buka. “Tapi tak etis kalau disampaikan sekarang,”  imbuhnya. Yang jelas, sambung Edison, dengan modal itu, ke depan ini Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) patut didirikan, agar pendapatan daerah meningkat.

Teknis Modernisasi Usaha Rakyat juga kelak didampingi oleh para tenaga ahli.  “Tenaga ini bisa orang-orang Nias yang sudah sarjana. Kalau selama ini sarjana kita enggan pulang kampung karena sempitnya lapangan kerja, kita berdayakan mereka. Tapi tentu SDM-nya akan kita data terlebih dulu,” tutur Ingati Nazara.

Produk identitas asli daerah juga dirambah. Di Tanah Air satu dasawarsa ini, produk daerah berupa kerajinan tangan dan aksesorinya, termasuk kuliner, sudah sedemikian berkembang. Tapi, kita Nias Utara, sambung Ingati, masih telantar.

Potensi ini bisa digarap dengan memanfaatkan
eksotisme pariwisata kelautan kita. Bayangkan, ada banyak pantai Nias Utara yang masih perawan, seperti pantai Ture Galoko.

“Edisi” bertekad menyolek pantai-pantai Nias Utara yang merupakan 2/3 wilayah Nias menjadi tambang emas kesejahteraan masyarakat. Pembangunan sarana dan prasarananya, semisal perhotelan, otomatis sudah dipersiap sejak awal.

Di hamparan pasir putih pantai, wisatawan bisa menikmati ikan kafe-kafe yang diasapi, dan itu tidak ada di daerah lain, yang kelak “Edisi” garap secara serius. Prinsip kedua, “Kita akan buat setiap orang yang berkunjung ke Nias Utara membawa sesuatu,” tambah Edison Hulu.

Perubahan Mental

Edison Hulu menyadari, menggerakan roda perekonomian semacam ini mesti disertai dengan perubahan mental masyarakat. Produktivitas yang dimiliki tiap orang akan terpendam lama dalam perut bumi bila tidak ada tangan kreatif yang menggalinya.

Jangan terlalu lama terpendam. ”Kesadaran harus kita digugah, dengan mereformasi mental malas kita. Produktivitas harus kita galakan di mana-mana. Jangan sampai lagi ada yang masih berpangku tangan hingga menularkan kemiskinan kepada anak-cucu kita,” tekan Edison Hulu.

Bahwa kejayaan, lanjut Edison, selalu berpihak kepada mereka yang bekerja keras tidak putus asa. Kerja keras menjadi kata kunci sekaligus modal sosial dasar yang harus dikantongi masyarakat.  Terasa terbuang percuma fasilitas kegiatan perekonomian yang disediakan kelak kalau dalam diri kita masih diselimui kemalasan.

Wajar, kalau kerja keras ditetapkan sebagai syarat utama keluarga Nias Utara untuk terpilih menjadi kelompok usaha proyek percontohan dari sejumlah kegiatan ekonomi di atas.

Ingati Nazara mengatakan, “Pertama, orangnya harus jujur. Kedua, dia mau bekerja keras. Dua kreteria ini garansi bahwa dia sanggup memanfaatkan dana kredit usaha yang dikucurkan kelak.”

Penataan Biokrasi

Membangun ini semua, birokrasi yang efektif dan bersih, mau tak mau menjadi prasyarat utama. Karena biokrasi telanjur menjadi pengatur lalu lintas dinamika kehidupan dalam bernegara, Edison-Ingati tak main-main untuk urusan satu ini. Ingati Nazara mengatakan, birokrasi harus diisi oleh orang-orang yang mumpuni di bidangnya. Yang lebih penting: terjaga integritasnya.

Banyak agenda-agenda bagus, bahkan tergolong megaproyek, sebagaimana tecermin dalam dokumen Rencana Startegis Daerah, tetapi terantuk kerikil biokratis. Lingkupnya amat teknis, tetapi berdampak serius. Itulah kebijakan. Mulai dari pelayanan kependudukan; pendidikan, dan kesehatan; ekonomi, investasi, dan keuangan (perizinan/sewa lahan dan usaha, pajak, retribusi, dividen, dan seterusnya); pembangunan fisik; perekrutan pegawai; dan sebagainya.

Ke depan, tradisi mengangkat kepala desa yang membayar Rp 5 juta-Rp10 juta, “Edisi” bertekad menebasnya. “Apalagi mengangkat kepala dinas dengan membayar Rp 50 juta-Rp 100 juta kita akhiri jangan sampai terulang lagi,” kata Edison bertekad.

Edison menceritakan, pernah dulu seorang investor Jepang datang ke Nias untuk berinvestasi pengolahan ujung tempurung kelapa untuk bahan karbon dan printer. Tapi karena segala sesuatunya dimulai harus ada duit ‘siluman’, pelicin, apa pun namanya—akhirnya gagal.

***

“Edisi” sadar, pembangunan masyarakat menelan waktu puluhan tahun. Akan tetapi, itu bisa dipersingkat jika semua elemen masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat sama-sama berkonsesus meletakan Garuda di Dada sebagaimana semangat Merah-Putih penonton dan tim nasional dalam ajang Piala AFF Suzuki Desember 2010 yang baru saja kita lewatkan.

Menjemput konsesus ini, tiang pancang atau fondasi yang kokoh harus dipasang. Bisa dibayang kalau bangunan tanpa tiang. Jangan main-main untuk urusan satu ini, karena menyangkut hal-hal fundamen daerah dan masyarakat kita.

Kokoh di awal, berkesinambungan di tengah: merupakan indikasi akhir yang baik. Itu logikanya. Edison Hulu memberi ilustrasi: gairah meletakkan fondasi bukan seperti semangat Merah-Putih hari ini; selalu datang dan pergi.

Itulah yang segenap hati diperjuangan Edison-Ingati, meletak dasar Nias Utara untuk keberlanjutan hari-hari selanjutnya. “Edisi” Baru untuk Nias Utara Baru: terbanglah Garuda Nias Utara.

SATU VISI LIMA MISI

Berpegang pada visi ”Kabupaten Nias Utara yang maju dan sejahtera”, Edison Hulu dan Ingati Nazara membangun lima misi untuk kampung halaman tercinta.

  1. Membangun administrasi pemerintah daerah Kabupaten Nias Utara yang efisien sehingga dapat melaksanakan fungsinya secara optimal sebagai pelayan masyarakat.
  2. Memberdayakan secara penuh potensi ekonomi daerah sehingga pendapatan masyarakat, pendapatan asli daerah, dan ekspor keluar daerah mengalami peningkatan, serta tecipta kesempatan kerja.
  3. Berupaya secara maksimal untuk menyediakan sarana dan prasarana ekonomi, sosial, dan budaya, sehingga meningkatkan keinginan para investor untuk berinvestasi di Kabupaten Nias Utara.
  4. Meningkatkan kesepatan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang semakin baik agar kualitas sumber daya manusia Kabupaten Nias Utara makin meningkat.
  5. Menciptakan kondisi sosial sehingga masyarakat makin meningkat keinginannya untuk menjaga lingkungan hidup yang semakin baik dan beriman. [*/Suara Nias]

Related posts

Top