Transisi Kekuasaan 2011 A.D

Oleh: Fotarisman Zaluchu*


NIAS-BANGKIT.com — Hampir 6 tahun sudah Tuhan mengizinkan gempa besar terjadi di Pulau Nias. Saat itu Pulau Nias dari Utara ke Selatan luluh lantak. Pusat gempanya memang berada di lautan, tetapi pusat gempa yang sesungguhnya terjadi di pusat kekuasaan di Pulau Nias. Pusat kekuasaan penguasa itu bernama Kantor Bupati Nias. Hari itu, Kantor Bupati Nias turut serta dihancurkan oleh gempa, manakala sang Bupati sedang lelap dalam tidurnya di Medan ketika bencana itu terjadi. Gempa seolah marah kepada penguasa karena Nias tak juga bangkit-bangkit meski penguasa ada dan berkuasa.

Di Pulau Nias bertahun-tahun penguasa silih berganti, tetapi kemiskinan dan ketertinggalan tak juga lepas. Bau nista dan marjinal selalu saja menemani setiap sosok di Pulau Nias, bak penderita kusta pada 2.000 tahun yang lalu. Yang namanya suku Nias, seolah identik dengan kehidupan yang penuh penderitaan. Bahkan, ada zaman kelam ketika Pulau Nias diidentikkan dengan pulau buangan, pulau tempat setiap pejabat jahat dan tak laku dibuang ke sana. Pulau Nias pernah menjadi “Nusakambangan karier”. Dan aroma itu masih terasa sampai sekarang. Setiap ada pejabat yang dipindahtugaskan ke Pulau Nias, selalu saja nada negatif yang terungkap.

Ketika pada 2005 Tuhan izinkan Pulau Nias diguncang. Bisa jadi ini teguran Tuhan yang maha dahsyat untuk Nias. Gempa menghancurkan hampir seluruh infrastruktur yang ada. Nias terpuruk ke dalam jurang yang paling dalam. Semua panik. Semua berlari menangis dan mencari Tuhan, kecuali penguasa. Waktu bencana terjadi, sang penguasa tak juga melihatnya sebagai tangan Tuhan yang turun memorakporandakan Pulau Nias sebagai hukuman. Bagaikan manusia Babel dalam perjanjian Lama, sang penguasa tak melihat bahwa semua bencana itu adalah murka Ilahi. Ia melihat dirinya masih tetap sebagai sang penguasa yang luput dari bencana.

Dalam sekejap mata, bencana dijadikan kesempatan untuk mengubah teguran Tuhan menjadi sekadar gejala alam belaka. Penguasa bersalin rupa, menjadikan bantuan kaum lain sebagai kemurahan tangannya. Dengan licin penguasa menjadikan Nias berada dalam pusaran perhatian, yang mengiba-iba. Ia menjual Nias untuk mendapatkan perhatian dari sekitar. Dan itulah yang kini menjadi asal muasal penetapan status korupsi pada Bupati Nias. Miliaran dana bencana kini diusut. Kalau direfleksikan, dana yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat korban bencana telah mengalir ke kantor penguasa.

Bencana yang dijadikan sebagai berkah bagi penguasa korup sesungguhnya adalah kebencian bagi Tuhan. Hari demi hari kita menyaksikan bagaimana para pejabat di Pulau Nias menjadi tersangka dalam berbagai kasus. Tidak di Kabupaten Nias, tidak di Nias Selatan. Mereka yang seharusnya melayani, kini tangannya yang terbungkus uang korupsi itu mengisi hari dan hidup di balik jeruji besi. Sampai akhirnya, sosok penting birokrasi di Nias pun tak bisa lagi ingkar pada belenggu hukuman dari Tuhan.

Kini, menjelang 6 tahun bencana besar yang diizinkan Tuhan di Pulau Nias, Pulau Nias memang seperti bersalin rupa, menjadi pengantin baru yang manis rupa. Telah terbentuk 5 daerah otonom di sana. Sayangnya, di dalam semua penampilan yang rupawan itu ada potensi kebusukan yang ditutupi dengan aroma wewangian. Kelihatannya harum dan indah, padahal, kita khawatir sebentar lagi kebusukan itu akan terbuka dan terbongkar. Semuanya bersumber dari “penampilan-penampilan” para kandidat yang kita khawatirkan hanya akan mengulangi bencana-bencana yang sebelumnya.

Setiap hari kita menyaksikan ada saja calon penguasa-penguasa baru yang memberikan bantuan kepada masyarakat. Ada saja calon penguasa yang mengelus dada seolah prihatin dengan nasib masyarakat. Ada saja calon penguasa yang memegang tangan masyarakat seolah ingin bersanding maju.

Tuluskah mereka? Belum tentu. Jejaring korupsi dan tingkah laku korup telah menebar petaka di seluruh Pulau Nias. Para birokrat kini menjadi licin dan lihai di dalam mempermainkan uang negara. Politisi begitu liat untuk dipercaya janjinya. Sosok-sosok palsu kini menjual harapan palsu kepada masyarakat. Masihkah kita percaya pada mereka yang bertahun-tahun hanya menjarah bumi Pulau Nias? Masihkah kita percaya kepada mereka yang rumah dan bangunannya berdiri oleh recehan uang rakyat yang dikorup? Masihkah kita mengakui bahwa mereka jujur, sementara kita tahu hidup mereka begitu mewah dan bergelimang kepuasan selama ini? Di Pulau Nias sana mereka begitu rajin menyambangi masyarakat, tetapi mereka tak pernah bicara di mana mereka “menanam” harta dan kekayaannya.

Kita tahu bahwa menjadi penguasa bukan hanya sekadar manis rupa dan rupiah yang disalurkan. Kekuasaan adalah soal ketakutan pada Tuhan. Dalam mitos yang banyak berkembang di bumi Nusantara ini, para raja selalu mengakui adanya “sesuatu” yang datangnya dari “atas”, yang selalu mereka patuhi. Jika kemudian masyarakat Nias mengenal agama, maka seharusnya yang di “Atas” itulah yang menjadi pemandu. Tetapi ternyata tidak. Para penguasa malah memandang bahwa merekalah puncak langit. Merekalah yang memandang ke bawah karena di atas mereka tak ada lagi ada apa-apa. Akibatnya, Tuhan pun mengizinkan berbagai masalah timbul.

Syahdan, Kaisar Nero menuding orang Kristen membakar kotanya. Ia lalu menggantung kayu, menyalibkan orang Kristen dan memburu mereka bagaikan sang gila. Tetapi Tuhan jua punya waktu. Ia menampar Nero, seperti ketika Ia menghardik Herodes. Kedua pemimpin itu, di jaman yang berbeda, di tangan Tuhan yang tidak pernah tidur itu, mati! Keduanya dimakan cacing.

Penguasa-penguasa baru di Pulau Nias, kelak mungkin bisa berdalih. Mereka bisa menjadikan Pulau Nias sesuka hati dengan alasan apapun. Tetapi sesungguhnya murka Tuhan bisa turun lagi. Kabut amarah Tuhan melihat dengan tajam sasaran hukuman Tuhan. Tamparan Tuhan pada penguasa yang melawan Tuhan di Pulau Nias, hanya masalah waktu. Di sinilah kita sebagai sosok yang mengaku beriman dan percaya, meminta Tuhan supaya menghadirkan sosok-sosok yang takut akan Tuhan, untuk memimpin Nias, supaya Pulau Nias bisa bangkit.

Di akhir tahun 2010 ini, kita berdoa supaya ketika di awal tahun 2011 nanti ada pemimpin-pemimpin baru di Pulau Nias, yang takut kepada Tuhan. Kita tak ingin daerah kita terpuruk lagi. Selamat menyongsong 2011 A.D. *[Fotarisman Zaluchu, penulis buku rohani, editor buku, peneliti dan pengajar. Berdomisili di Medan, Sumatera Utara]

One Comment;

  1. saronia Larosa said:

    Pemimpin di Nias ibarat “manu sawena aefa ba wesu”.Ibarat baru lepas dari kungkungan, kemiskinan,kemelaratan dll.Mereka sangat potensi untuk korupsi.Ibarat melihat uang itu jadi semuanya jadi warna hijau.kalau Nias mau maju tentu mereka harus komitmen untuk tdk korupsi dan harus bekerja keras sehingga hasilnya dapat di nikmati oleh masyarakat.Keberhasilannya juga harus bisa di ukur dengan ukuran yang sudah di sepakati bersama.Semoga mereka tidak hanya pandai berbicara tapi rencana2 yg sdh di buat bisa di aplikasikan di tengah-tengah masyarakat.

Top